Senin, Februari 25, 2008

Nainggolan Twins Lega Akhirnya Bertemu Papa



“Kami lega telah bertemu lagi dengan papa, “ demikian Radja Nainggolan ketika dihubungi, Jum’at 22 Februari 2008 di HPnya. Ketika ditelepon sore itu Radja sedang mengemudi mobil menuju training di klubnya Piacenza. Dengan sopan ia minta ijin memparkir kendaraan.

Setelah terdengar dialog dalam bahasa Italia, dia menyatakan siap melanjutkan perbincangan. “Setelah 13 tahun akhirnya, kami bisa bertemu kembali. Papa datang dari Bali ke Italia menemui saya dan Riana ( saudari kembarnya red.)“ demikian ungkap Radja Nainggolan, pebola keturunan Indonesia yang sejak tiga tahun ini bermain untuk klub Serie B Italia.

“Awalnya pertemuan itu sangat aneh sekali, saya hanya bisa menatap papa tanpa bisa berkata banyak. Muatan emosi terus menyelimuti benak ini. Setelah beberapa jam baru suasana menjadi semakin hangat dan sangat akrab.” Demikian Radja Nainggolan menuturkan pertemuan dengan ayahnya, Marianus pada Desember 2007 lalu di Italia.

“Bayangkan saja kami ditinggal di Belgia ketika masih berusia enam tahun. Selama belasan tahun itu muncul semacam kekosongan atau kevacuman. Tapi setelah tiga minggu menghabiskan waktu bersama, banyak kekosongan yang terisi dan pertanyaan yang terjawab.” Tutur Radja mengenai momentum penting dalam hidupnya dan saudara kembarnya Riana Nainggolan.

“Sekarang saya lebih bisa memahami keputusan orang tua, karena saya sendiri baru saja menjadi orang tua, dari seorang putri bernama Alisa,” tukas Radja kepada Djenol. Pada perbincangan antara Radja dan Riana dengan ayahnya di Italia itu membukakan pandangan “Nainggolan Twins” tentang Indonesia dan sepakbola Indonesia.

Radja dan Riana mengakui terinspirasi bermain bola dari ayahnya ketika mereka masih balita. Ketika masih usia empat tahun Pak Marianus sering mengajak dua putra-putrinya bermain bola. Setelah Pak Marianus kembali ke Indonesia, Radja mendapat dorongan dari ibunya Lizi Bogaerd dalam menggeluti sepakbola.

Bakat sepakbola yang disandang Radja dan Riana cukup kental. Karena pada usia 11 tahun Radja sudah ditarik ke Germinal Beerschot. Empat tahun kemudian pada medio 2005, Radja ditarik dari Germinal Beeschot ke Piacenza, bersama Didier N'Dagano. Ketika itu mereka ditawari kontrak dua tahun, dan terbukti sampai tiga tahun kemudian, Radja masih bertahan dalam skuad Piacenza.

Sementara itu Riana Nainggolan juga bermain bola ditataran tinggi. Sampai sekarang masih aktif di klub sepakbola perempuan di Belgia, Kontich. Klub di daerah ini berkiprah di kompetisi nasional.

Nah segitu dulu tulisan tentang Kembar Nainggolan. Bicang telepon masih berlanjut dan nanti aku tuliskan di sini juga. Radja akan bertutur tentang paspornya, keinginannya datang pertama kali ke Indonesia, juga soal gagasannya tentang sepakbola Indonesia.djenol

Clip video Riana mengambil tendangan bebas:

Kamis, Februari 21, 2008

Esklusif Bincang Dengan Irfan Bachdim



Irfan Bachdim untuk pertama kali bermain di Eredivisi pada pertandingan FC Utrecht - VV Venlo 17 Februari 2008. Saat ini Irfan lah satu-satunya pemain keturunan Indonesia yang berlaga di liga tertinggi Eropa. Sejauh mana penampilannya ini punya makna bagi perkembangan karir bolanya, dan bagaimana peluangnya memperkuat timnas Indonesia? Wawancara Djenol dengan Irfan Bachdim, Rabu sore 20.02.2008.

Djenol[DJ]: Selamat dengan penampilan perdana di Eredivisi?


Irfan Bachdim [IB]: Terima Kasih.. terima kasih


DJ : Gimana sejarahnya kamu dipangggil tim utama FC Utrecht?


IB : Itu karena banyak pemain FC Utrecht yang cedera, sehingga saya dapat kesempatan main. Hari Jum'at lalu seperti biasa latihan di tim FC Utrecht II. Pelatih kami, David Naschimento memiinta saya latihan dengan tim utama. Jum'at dan Sabtu ikut latihan di tim utama. Usai latihan Sabtu malam, saya lihat nama saya masuk dalam daftar pemain. Hanya belum tahu apakah di tim inti atau di bangku cadangan. Minggu paginya dibicarakan strategi permainan dan susunan pemain inti. Nama saya ternyata ada di situ. Saya sangat gembira sekali, tentu saja.


DJ : Kamu dipasang di sayap kanan ya, padahal itu kan bukan posisi favoritmu?

IB :
Betul, memang bukan posisi nomor 10 kesukaan saya, tapi dengan pola 4-3-3 tidak membutuhkan posisi nomor 10. Jadi dalam hal itu posisi terbaik saya sayap kanan.


DJ : Apakah kamu menduga akan main penuh 2 x 45 menit?


IB : Sebenarnya tidak, apalagi ketika di menit 16 kami bermain dengan 10 orang, karena Tim Cornelisse kena kartu Merah. Saya sempat menduga akan diganti, mungkin berubah ke pola kompak, berdekatan. Tapi tim pelatih (Willem van Hannegem dan John van Loen red.) tetap mempertahankan kecepatan di depan (Irfan punya nilai lebih di kecepatan red.)


DJ : Kondisi fisik kamu, tampak mengalami perkembangan. Badan kelihatan kekar dan kecepatan bertambah. Apa yang kamu lakukan selama ini?


IB : Selama ini saya menyadari bahwa tubuh saya tidak terlalu tinggi (174 cm red.) tapi tetap ingin berprestasi di tingkat atas. Jadi saya menguatkan fisik dengan fitness 3 kali seminggu di FC Utrecht Gym agar otot membesar dan kuat.


DJ : Bagaimana dengan makanan. Apakah juga disesuaikan?


IB : Sudah tentu, selalu memperhatikan makanan. Tapi tidak dengan skema yang ketat.


DJ : Kalau kemajuan ini terus dipertahankan maka tidak heran kalau PSSI juga tertarik. Apakah sudah ada dari pihak PSSI yang menghubungi?
IB : Belum ada, sejak Asia Cup 2007, tidak ada lagi kontak. Kita tunggu saja.


DJ : Syarat lainnya untuk terseleksi di timnas Indonesia kamu harus pegang paspor Indonesia. Tahun lalu ketika mencapai usia 18 tahun, kamu masih bisa memilih paspor Belanda atau Indonesia. Apakah kamu masih pegang paspor Indonesia?
IB : Ya, itu masih tetap. Saya tidak berubah paspor, tetap Indonesia.


DJ : Lha itu kok di situsnya FC Utrecht tertulis kamu warga Belanda?


IB : Oh ya, saya malah tidak memperhatikan. Itu mungkin karena memang FC Utrecht tidak pernah mendata pemain yang lahir di Belanda. Jadi ditulis saja warga Belanda. Yang benar saya masih tetap warga Indonesia.


DJ : Jadi masih tetap mau dan ingin memperkuat timnas Indonesia?


IB : Iya itu tidak pernah berubah. Tentu harus memperhitungkan juga jadwal main di FC Utrecht.


DJ: Makasih perbincangannya. Saya dan semua pencinta bola di Indonesia berharap kamu lebih sering bermain di tim utama FC Utrecht. Agar suatu saat bisa memperkuat timnas Indonesia.


Demikian wawancara dengan Irfan Bachdim dalam bahasa Belanda yang dialihbahasakan. Djenol

Senin, Februari 18, 2008

Penampilan Perdana Irfan Bachdim di Eredivisie


17 Februari 2008 bersejarah untuk Irfan Bachdim. Untuk pertama kalinya Irfan bermain di Liga Utama Belanda, Eredivisie. Sebenarnya juga hari bersejarah untuk sepakbola Indonesia

Pemain muda kelahiran Amsterdam 11 Agustus 1988 itu masih warga Indonesia. Ia bahkan sudah pernah bergabung dengan timnas Indonesia U-23 ketika berlatih di Belanda.
Pada pertandingan kandang menjamu VV Venlo, Irfan Bachdim diturunkan satu pertandingan penuh. Namanya cukup mengherankan penggemar bola Belanda. Sampai-sampai Umberto Tan, reporter RTL televisi kondang pemegang hak tayang Liga Eredevisi menyebutnya bukan Bachdim, tapi Bachdi.
Walaupun FC Utrecht sore itu dipermalukan tim tamu, dengan 4-1. 

Namun penampilan Irfan sendiri sebenarnya tidak mengecewakan. Dia bahkan sempat menyumbangkan tendangan pinalti untuk FC Utrecht karena dijatuhkan di kotakpinalti. Sayang peluang bola dari titik pinalti itu tidak membuahkan gol, karena ditahan kiper VVV.
Aku sebagai orang Indonesia ikut bangga dengan Irfan yang diturunkan dua kali 45 menit penuh. Selama ini Irfan yang aku kenal sebagai remaja yang kurus dan pemalu, malam itu dia tampil bagus dan tubuhnya sudah mulai kelihatan “berotot.”

Tim pelatih FC Utrecht dou Willem van Hanegem dan asisten John van Loen, sore itu memang memilih untuk menurunkan skuad mudanya. Selain Irfan bernomor punggung 42, masih ada Randy Wolters (17) dan Tim Noordraven (17). Alasan menurunkan pemain-pemain muda itu, antara lain karena banyak pemain pilar yang absen cedera atau diskors.

Usai pertandingan, asisten pelatih John van Loen, dalam kilasbaliknya mengatakan kecewa dengan kekalahan FC Utrecht, tapi melihat satu-satunya keuntungan malam itu adalah “kesempatan perdana pemain-pemaian muda untuk menjajal lapangan Liga Tertinggi Belanda, de Eredevisie.” Mudah-mudahan ini jadi awal penampilan Irfan Bachdim, satu-satunya warga Indonesia yang aktif di Liga Utama Eropa. Djenol

Susunan pemain FC Utrecht 17 Februari 2008 : De Ruiter, Cornelisse, Dickoh, Van der Kooy, Van Buuren, Kruys (Wolters/46), Caluwé (Leeuwin/65), Somers, Bachdim, Nelisse (Vandenbergh/67), George
Artikel lain tentang Irfan:
Apakah Irfan Masih Mau Main Untuk PSSI?

Rabu, Februari 06, 2008

Edgar Davids Diminati Fans Barcelona


Kalau fans boleh menentukan maka FC Barcelona segera menggaet Edgar Davids. Pendukung setia Barcelona berjuluk Blaugranas yakin, pemain milik Ajax Amsterdam itu bisa berperan penting bagi Barca dalam mengejar ketinggalan angka dari Real Madrid. Saat itu Real memimpin dengan enam angka di atas klub terbesar Katalonia.


Menurut survey, para fans merindukan sejumlah nama pemain yang dinilai mampu membangkitkan stamina Barcelona.
David yang saat ini sedang diskor di Liga Belanda, berada di urutan teratas. Fans-fans itu rupanya merindukan kesuksesan empat tahun lalu. 2003 Davids yang berjuluk ‘pitbull’ ditarik ke Barcelona dari Juventus. Wah ini secara teknis bukan tidak mungkin, karena kontrak ‘sapu jagad berkaca mata plastik’ itu sudah mau abis. Kalau mau harus segera gedor pintu Ajax. Tapi untuk apa?? Untuk apa beli pitbull yang sudah ompong?? djenol - div