Selasa, November 15, 2016

Inilah Pelatih Yang Paling Pas untuk Indonesia


Ketika Indonesia mencari pelatih untuk meningkatkan prestasi sepakbola nasional, ada satu nama yang paling cocok: Ricardo Moniz. Sebaiknya PSSI baru pimpinan Edy Rahmayadi mengamati coach #keturunan ini.


Sepakbolanda mengucapkan selamat kepada pengurus PSSI yang baru terpilih. Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum PSSI, yang berduet dengan Ade Wellington sebagai Sekretaris Jendral PSSI periode baru.

Eka Tanjung kembali teringat tulisan lama ini dan kembali mengimbau dan memohon untuk mempertimbangkan nama pelatih ini: Ricardo Moniz.

Saat ini dia melatih FC Eindhoven di Liga Dua Belanda. Dan tampaknya masih siap dan terbuka untuk menukangi sepakbola Indonesia.

Setelah PSSI memiliki kepengurusan yang baru dengan semangat yang baru. Menekankan pada pendidikan usia dini, mungkin saatnya menemukan pelatih yang cocok.

Mengilhami filosofi Wiel Coerver, berasal dari Belanda. Memiliki ikatan keturunan dengan Indonesia. 

Eka Tanjung dari Sepakbolanda menemukan nama Moniz setelah mendalami sederetan nama pelatih di Belanda yang berpotensi dan mampu meningkatkan daya saing timnas Indonesia. Nilai lebih yang dimiliki pelatih kelahiran Rotterdam, 17 Juni 1964 antara lain: 
  1. Keturunan Indonesia.
  2. Pewaris filosofi Wiel Coerver 
  3. Pengalaman pemain dan pelatih di berbagai negara.
  4. Racikan Strategi Total Football.
  5. Memikili sertifikasi fisoterapi.

Keturunan Indonesia
Ricardo Moniz memiliki akar di Belanda, Suriname dan Indonesia. Ibunya lahir di Jakarta dari campuran Belanda dan Indonesia. Ayahnya berasal dari Suriname. Percampuran yang mengalir di darahnya menguatkan ikatan dengan tiga negara.


Wiel Coerver
Ricardo termasuk satu dari dua sosok di Belanda yang mewarisi dan memahami theori pendidikan sepak bola gagasan Wiel Coerver. "Rancangan Pendidikan Menjadi Pesepakbola Ideal," yang diwariskan ke Rene Meulensteen dan Ricardo Moniz. Di Belanda dua sosok ini dipandang sebagai pengembang tehnik sepak bola Wiel Coerver secara lengkap. 

Methoda sepakbola Wiel Coerver menekankan skills individu dan latihan yang terstruktur. Untuk menguasai satu tehnik, dilakukan latihan berulang-ulang. "Jika kita mengagumi bintang, maka kita harus mengikuti pola latihan dan profesionalitasnya." Coerver juga menuntut pelatih menguasai materi dengan sempurna. "Seorang pelatih harus bisa memberi contoh gerakan dan trik yang diajarkan." 


PSSI Tamtama
Wiel Coerver (3 Desember 1924 - 22 April 2011) mantan pelatih dan pemain sepak bola Belanda. Pernah melatih Tim Indonesia Tamtama 1975-76. Setahun sebelumnya ia sukses membawa Feyenoord Rotterdam meraih Juara Piala UEFA, sekaligus klub Belanda pertama yang berhasil meraih gelar itu.

Coerver dijuluki Einstein Sepak bola karena kontribusinya bagi kemajuan sepak bola dunia. Ia punya ungkapan terkenal: “Sepak bola 20% pakai kepala, 20% pakai kaki dan 60% dengan hati. Jadi bermain bola sejatinya menggunakan perasaan. " 

Kepada sepakbolanda, Moniz mengatakan bahwa pelatih ibarat ayah bagi semua anak-anak asuhannya. Dia melakukan dengan sepenuh hati. Moniz mengenal Coerver sejak tahun 1981 di klub Eindhoven. "Sejak itu kami merasakan kecocokan. Dan saya beruntung bisa terus mendapatkan ilmu dan pembelajaran dari Wiel." 

Hubungan mereka sangat kuat. Coerver pernah berpesan pada Ricardo: "Kamu harus melanjutkan pekerjaan saya." Tidak mengherankan jika Moniz mempersembahkan gelar The Double bersama The Red Bull Salzburg (Juara Liga dan Juara Nasional Cup Austria) kepada mendiang Wiel Coerver yang meninggal se tahun sebelumnya. 

Cinta Indonesia
Ricardo menuturkan kepada Sepakbolanda bahwa Wiel Coerver sangat cinta Indonesia. "Bagi Wiel Indonesia adalah negeri keduanya. Dia sering cerita tentang Indonesia. Dia punya koleksi ukiran. Di rumahnya banyak sekali ukir-ukiran kayu, dari berbagai bentuk dan rupa."



Pengalaman Pemain dan Pelatih
Moniz berkarir sepakbola profesional dari 1981- 1993 di Klub Eindhoven, HFC Haarlem,  RKC Waalwijk , FC Eeklo, Helmond Sport. Jika karir sepak bola ditempuh dalam 11 tahun, karir pelatihnya lebih panjang lagi.

Sejak 1994, setahun setelah gantung sepatu dia langsung menjadi pelatih. Sejak 1994 VV Nuenen,  1997 Al Jazeera Emirat Arab (Direktur Akademi), 1998 Feyenoord Rotterdam (technical coach), 1999 Grasshoppers Zürich (Coach Teknis), 2004 Jong PSV (Coach), 2005 Tottenham Hotspur (Skills Coach),  2008-2010 Hamburger SV (Technical Coach / Caretaker), 2012 Red Bull Salzburg ( Coach), 2012-13 Ferencváros Hongaria (Coach), 2014 Lechia Gdańsk Polandia (Coach) dan TSV 1860 München Jerman (Coach).

Johan Cruyff
Dalam tugas sebagai coach membesut tim sukses antara lain dengan Red Bull Salzburg, Moniz membaurkan methoda skill individu pemain dari Coerver dengan Total Footbal gaya Johan Cruyff di era tahun 1970an. "Saya mengembangkan methoda Coerver untuk skill individu dengan strategi Total Footbal khas Belanda era awal tahun 1970an." Menurutnya tim yang memiliki skill dan stamina baik, bisa menjalankan strategi serempak menyerang dan serempak bertahan. "Dalam soal strategi saya menganut prinsip Johan Cruyff yang memungkinkan semua pemain bisa mencetak gol."  



Fisioterapi
Selain menangani berbagai klub sebagai pelatih skills, personal trainer, juga sebagai coach, Ricardo Moniz juga memiliki sertifikat sebagai fisioterapi. "Saya bisa meraih ini semua berkat didikan ibu saya yang keturunan Indonesia. Kami dididik untuk pantang menyerah dan kerja keras."  

Ditanya soal kelemahannya, Ricardo mengakui dirinya kadang terlalu 'langsung.' "Saya kadang kurang diplomatis dalam penyampaian. Tapi maksud saya baik. Saya sayang pada anak-anak didik. Dalam hal itu saya mirip juga dengan Wiel." 

Robin van Persie
Sepakbolanda melihat pengakuan langsung dari Robin van Persie, Edgar Davids dan Nigel de Jong yang mencari Ricardo Moniz ketika sedang terpuruk. "Ketika prestasi sedang kendor, saya diam-diam berlatih dengan Ricardo," ungkap Robin van Persie mengenai masa sulit di Feyenoord.

Dari pengalaman yang panjang dan pengakuan dari berbagai pemain, membuktikan kualitas Ricardo Moniz sebagai pewaris methoda Coerver dan membalut dengan Totaal Voetbal. Seperti halnya Coerver yang tidak selalu 'difahami' oleh lingkungannya, Moniz juga mengalami hal yang sama di tempat dia menyebarkan ilmunya.  
"Tapi saya selalu mencoba bangkit, dengan karakter pantang menyerah yang diturunkan dari ibu. Ini yang ingin saya tularkan pada anak-anak muda."

Tidak banyak pelatih yang masih mau memberi contoh gerakan yang ingin dicapai oleh para pupilnya. Moniz sangat senang bekerja di lapangan dan memberikan motivasi yang dibutuhkan anak-anak.  Sepakbolanda menilai bahwa saat ini di era PSSI yang baru yang bekerja serius mengembangkan pendidikan usia dini, sudah seharusnya merekrut Ricardo Moniz.



NOTE: Mohon menghargai karya tulis. Jika Anda mencantumkan sebagian atau seluruh tulisan ini ke website atau dinding Anda, mohon mencantumkan sumber www.sepakbolanda.com Terima Kasih. 
Posting Komentar