Selasa, Maret 15, 2016

Kenangan Gawang Bolong dan Tendangan Pisang

Gawang Bolong

Kenangan masa lalu sulit dilupakan. Memori masa silam yang tidak mudah dihapuskan tentang gawang bolong di lapangan kampung, Gunung Kemukus.

Eka Tanjung ingat betul 40 tahun lalu nonton sepakbola di lapangan Ngandul ini. Karena tinggal dengan Kakek dan Nenek yang hanya 300 meter dari lapangan ini. Terpancing dengan hiruk pikuk penonton dan team yang datang dengan sepeda dan Colt Misubishi bak terbuka. Ramai-ramai berkonvoi melewati jalan depan rumah kami, sambil menabuhi bedug terbuat dari kulit sapi dan drum besi bekas aspal. Mungkin bedug itu dipinjam dari musollah sebelah.

Massal
Mendapati publik yang massal menyemut untuk menyaksikan partai Final Piala HUT Kemerdekaan RI, mempertandingan team dari Mojopuro dan Nganti. Tidak jarang partai-partai final seperti itu berujung pada permusuhan. Kerap penulis ketika itu masih 7 tahun, mendapati tawuran antara pemain dan penonton. Bebatuan beterbangan bak, hujan salju. Cuman gara-garanya sederhana saja.
Tendangan Pisang
Tendangan pojok diklaim sebagai goal murni karena berbentuk pisang. Sementara itu di partai final piala HUT Kemerdekaan itu mempertaruhkan kebanggaan kampung dan kesuksesan di depan mata para gadis desa yang berambut diblow dan muka putih pakai Cream Kelly.


Diprotes
Akibatnya team lawan memprotes goal yang tercipta oleh tendangan pisang Kang Parmin yang ketika itu dijuliki Platini dari Gunung Kemukus. Perbandingan yang sekarang mungkin akan disesali oleh Kang Parmin, karena Platini ternyata koruptor.

Tendangan pisang kang Parmin jauh lebih keren dari gol-gol yang ada di video bawah ini. Penulis duduk di belakang gawang hampir 1 meter di bawah mistar gawang Mojopuro. Pisannya kang Parmin tampak sangat cihui!



Sontak saja, ratusan penonton yang sudah bersenjatakan tongkat, pentungan berikat bendera Merah Putih, ada yang merah di atas dan ada yang merah terbalikdi bawah. Meraka saling tunjuk dan saling berteriak, bahkan kawan satu sekolah pun bisa menjadi musuh. Sentimental kampunglah yang saat itu lebih diutamakan. Mata jadi gelap, lupa diri. Jadi mirip dengan Yugoslavia jelang runtuhnya. 
Mario Kempes
Masih bocah namun Eka Tanjung melihat sepakbola merupakan olah raga yang banyak penggemarnya. Nama Mario Kempes dan Johan Cruijff sering kali terdengar dari perbincangan orang-orang besar yang saat itu paling faham sepakbola. Hanya karena kebetulan mengenal nama-nama pemain, pelatih dan nama negara saja sudah mengklaim sebagai orang paling ngerti sepakbola.
Bukan Gawang Saja Yang Bolong. Jalan pun masih bolong-bolong.
Eka Tanjung dari Sepakbolanda sejak awal memang awam soal sepakbola, sampai dengan hari ini masih belum tahu banyak soal sepakbola. Ketika masih berusia tujuh tahun ini belum paham tentang sepakbola. Sebagai bocah yang masih ingusan dan berbaju kodok dengan sapu tangan yang dipenitikan untuk mengusap ingus yang sesekali meler dari hidung peseknya.
Walau masih kecil, tapi Eka Tanjung sudah mencatat bahwa sepakbola adalah olah raga yang mengerikan dan mirip film perang  Cowboy Rin Tintin lawan Indian. Tanpa faham mana yang salah dan mana yang benar.
Gara-gara gawang tanpa jaring ini, akhirnya pawai 17 Agustusan kita saksikan banyak anak-anak yang berbaris memegang Bambu Runcing seolah melawan Belanda. Tapi faktanya, tak sedikit yang sehari sebelumnya telah 'berperang' bukan lawan Belanda, tapi lawan saudara sendiri dari kampung seberang.

Sambil berteriak :"Ganyang Belanda, Merdeka!" para serdadu cilik berkepala pakai perban gara-gara dihinggapi bebatuan di partai final sepakbola di Gunung Kemukus, 40 tahun silam. (Djen.)