Minggu, September 27, 2015

Ahok Tawari Sepakbolanda Jadi Pelatih di Jakarta

Basuki Tjahaja Purnama beberkan program pendidikan sepakbola dan pendidikan umum untuk generasi muda Jakarta. Taman-taman main dan lapangan sepakbola serta Rusun Cup menjadi progam tujuan. Ahok sampai menawarkan Sepakbolanda jadi pelatih.

KBRI Den Haag
Gubernur Jakarta menjawab pertanyaan Eka Tanjung dari Sepakbolanda dalam dialog dengan warga Indonesia di Den Haag Belanda. Di sela-sela undangan dari Pemda Rotterdam, pria yang akrab di panggil Ahok itu membuka kesempatan mengajukan pertanyaan. "Semua pertanyaan bisa," ungkapnya membuka acara diskusi dipimpin Ibnu Wahyutomo, Charge d'Affaires of the Embassy of Indonesia.

Konsep Belanda
Eka Tanjung melontarkan pertanyaan kepada Ahok mengenai pandangannya soal pendidikan sepakbola usia dini. Sebagai WNI yang sudah 30 tahun bermukim di Belanda, pengamat pendidikan sepakbola dan pemain keturunan Indonesia di Belanda ini melihat ada manfaat ilmu dari Belanda yang bisa diimplemantasikan di Indonesia.

Institusi Pendidikan
Main sepakbola di Belanda bukan sekedar nendang bola dan menceploskan ke dalam gawang lawan. Tetapi lebih dari itu, klub sepakbola merupakan institusi pendidikan yang sangat efektif, tepat sasaran dalam memberikan etika, moral serta karakter dasar setiap anak-anak mulai usia 7 tahun. Klub sepakbola yang ramah anak, akan menjadi magnit bagi generasi muda. Apapun yang disampaikan akan diserap dan dipatuhi.

Anak yang baru lepas dari popok sudah mulai diajarkan mencintai dan menekuni olah raga. Dengan cara bermain sepakbola dengan gembira, anak-anak ini memaknai etika saling menghormati, bersikap jujur, tidak hanya memikirkan "kalah-menang"  tapi bisa menjauhkan diri dari membedakan SARA.

Pertanyaan Eka Tanjung mengenai kompetisi sepakbola usia dini untuk pembentukan karakter dasar generasi yang solider, tangguh dan transparan. Generasi yang 20 tahun lagi mampu memerangi maling-maling. Seperti di Belanda, klub-klub kecil merupakan tempat pembentukan moral dan etika tangguh.

Ahok Tertarik
Mendengar pertanyaan itu, tampaknya Gubernur Jakarta itu tampaknya faham dan sependapat dengan pemikiran menciptakan generasi yang bersih dan berkarakter, melalui pendidikan usia dini sepakbola. Tanya jawab ini bisa disaksikan pada tautan video di bawah ini.


Salinan dari jawaban Ahok kepada Eka Tanjung.
Makanya kami sedang minta laporan golf Kemayoran, kami mau ubah menjadi lapangan bola semua. (disambut tepuk tangan riuh). Berarti nanti seperti Victoria Park (London) ada 9 lapangan bola.
Tapi di Golf Kemayoran saya tidak tahu dapat berapa. Kalau di Rottedam kan juga ada, danau trus ada lapangan bola, kan. Ada yang kecil dan ada yang besar.
Seperti yang kami lakukan sekarang adalah melatih anak-anak Rusun. Kami mau membuat Rusun Cup. Anak-anak Rusun tanding, kerjasama dengan Papua.. (Uni Papua red.) dengan pelatih dari Brazil. Jadi kita akan bikin rusun cup itu, kita membangun rusun yang besar, itu apartemen di Kemayoran sebetulnya. Depannya itu jembatan, langsung lapangan golf itu lapangan bola semua. 
Jadi anak-anak kecil yang bapak maksud itu RPTRA. Jadi kami sudah menyelesaikan enam Ruang Publik Terpadu Ramah Anak. Karena Jakarta gede orang gak begitu tahu. RPTRA ini filosofinya sederhana. Filosofi pertama: Tiap-tiap keluarga memiliki kesulitan masing-masing. Maka mereka butuh komunitas untuk berbagi dan memperhatikan. Nah kalau dia mau Sharing and Caring, mereka butuh ruang.

Ini hasil riset. Tingkat kebahagiaan orang ditentukan, bukan berapa seringnya datang ke taman. Tapi berapa lama dia menikmati sebuah taman. Kita bisa membayangkan kalau orang tidak mampu, di tempat yang tidak mampu. Dia mau olah raga atau pergi ke taman, kakek nenek bawa cucunya. Cucunya bosen gak? Maka kami kerjasama dengan Universitas. Ingin tahu orang kampung ini penginnya apa? Mau basket, badminton, atau futsal. Atau voli. "Anda kasih tahu, kita bikinkan."
Mau pengajian, kita bikinkan. Anda mau perpustakaan. Ada juga tentu lapangan dan orang kumpul di situ. Kami gaji, kami beresin satpam, semua. Buka jam 5 sampai jam 12.00 malam. Tahun ini kami siap 54. Kita jadwalkan 60 RPTRA. Luasnya macam-macam. da yang 5000 ada yang dibawah 1000. Tahun depan kami bangun 150. Tempat yang paling kumuh itu seratusan.


Basuki Tjahaja Purnama melanjutkan pemaparan tentang ide memperoleh lahan baru untuk lapangan. Jadi saya punya ide kalau anda punya tanah 100 m persegi. Saya minta setengah. Untuk taman bola macam-macam dan setengah dibangun untuk apartemen...

Sepakbolanda melihat inti pemikiran Ahok tentang sepakbola yaitu alat pemersatu.
Saya yakin olah raga yang bisa menyatukan: Bhineka Tunggal Ika, ya Sepakbola. Gak ada (di olah raga lain) yang bisa teriak-teriak dan tidak peduli agama apa. Pokoknya bisa cetak gol aja. Nah itu menarik. Makanya kami ingin mulai dengan Uni Papua dengan pelatih dari Brasil itu. 

Pelatih Team Rusun
Selain itu Eka Tanjung juga mendengar ajakan menarik dari orang nomor satu di DKI itu. Dalam kesempatan itu Ahok langsung mengatakan: "Kalau anda mau jadi pelatih silakan." 

Di sini, Sepakbolanda tidak melihat keuntungan di sisi materi, tetapi lebih tantangan untuk menuangkan pemikiran dalam pendidikan sepakbola berdasarkan konsep yang sudah dijalankan di Eropa. Walapun sepakbola di Benua Biru tidak sepenuhnya ideal dan bersih, namun dengan prestasi yang mereka torehkan di lapangan dan di luar lapangan merupakan pertanda hasil dari keseriusan menangani sepakbola.

Pendidikan sepakbola di Belanda bisa besar dan sukses berkat kontribusi langsung dari para orang tua dan wali. Bukan saja sumbangan materi tetapi paling utama adalah tenaga. Seperti sudah pernah dituliskan di Sepakbolanda. Sukses Sepakbola Belanda, Berkat Sukarela.


Keturunan di Belanda
Pada kesempatan itu Eka Tanjung juga masih sempat menyampaikan manfaat dari pendayagunaan pemain, pelatih, pengurus sepakbola Belanda #keturunan Indonesia. Dengan jumlah yang mencapai seribuan orang, maka para pelaku sepakbola berdarah Nusantara diyakini bisa memberikan kontribusi yang positif.

Kirim Pelatih
Atas inisiatif sendiri, Sepakbolanda sudah berulangkali mengirimkan pelatih, scout dan pemain untuk memberi pelatihan atau clinic di SSB lokal di Indonesia. Ketika pelatih asal Belanda berkunjung ke SSB lokal di Indonesia, merupakan kejadian yang sangat mengesankan untuk ketiga belah fihak. Si #keturunan, anak-anak SSB dan pelatih. Banyak pintu terbuka dan semangat terbangkitkan. Itu adalah awal dari putaran roda sepakbola Indonesia.

Eka Tanjung ingat dengan ungkapan pengamat sepakbola Belanda. Dengan jumlah 250 juta jiwa, sudah sepantasnya Indonesia menduduki ranking top 25 FIFA. Itu semua bisa diraih kalau bola Indonesia bisa bergulir lagi dan suspend dicabut. Semoga!