Sabtu, Juni 20, 2015

Hanya Bambang Pamungkas Yang Punya Mulut

Pic: Wikipedia

Menarik membaca opini Bambang Pamungkas (BP) mengenai perkembangan buruk yang sedang melanda sepakbola Indonesia. Disuspend FIFA dan PSSI dibekukan pemerintah. 


Kemarin mantan striker Timnas Indonesia dan berbagai klub ternama Asia itu menyebutkan bahwa: Dirinya keberatan dengan argumen salah satu pihak bertikai di sepakbola Indonesia. Kubu A menyatakan bahwa mereka mengutamakan nasib pemain sepakbola yang terlantar gara-gara keputusan kubu lainnya.

BP dalam opininya mengcounter dengan menyampaikan peringatan: Awas ya jangan sembarangan jadi pahlawan kesiangan. Jangan berdalih membela nasib para pemain sepakbola, padahal kalian dulu menerlantarkan banyak pemain sepak bola. Atau membiarkan pemain sepakbola terlantar karena tidak menerima upah. Itu kesimpulan dari opini BP di salah satu penerbitan.


Bambang Pamungkas (BP) adalah seorang dari sedikit pemain sepakbola atau mantan pemain sepakbola di Indonesia yang punya 'kepribadian.' Dia mampu mengeluarkan pendapatnya mengenai keadaan sepakbola nasional, dipandang dari kacamata pemain (pelaku sepakbola yang sesungguhnya).

Publik butuh pendapat yang kritis dan jujur, bukan kritis dan dendam. Menurutku BP bisa menyuarakan pendapatnya karena dia punya pendapatan sendiri yang tidak tergantung pada pemberi upah. Dia punya kemandirian.

Sementara banyak lainya yang mulutnya terbungkam oleh keadaan. Kasarnya kondisi ekonomi mereka masih sangat ditentukan mood orang lain. Sehingga pendapat mereka tidak terdengar, memilih bisu karena desakan ekonomi.

Timbangane ramangan, luwih becik bisu aee. Sejatinya aku yakin mereka juga punya opini dan pendapat. Suara mereka bisa memperbaiki sepakbola kita. Atau mungkin opini mereka adalah kunci yang mampu membukakan gembok permasalahan sepakbola hari ini.

Saat ini yang bersuara paling santer malah: Pengamat, pelatih, pengurus, pengacara, supporter. Semua orang bicara, kecuali pelaku bolanya sendiri: para pemain sepakbola. Kalau mereka diam, berarti ada masalah lebih besar, dari hanya polemik antara dua kubu yang bukan pelaku, tapi merasa sebagai pemilik. Kita sedang salah arah.