Sabtu, Mei 09, 2015

Percuma, Pieter Huistra Pun Takkan Bisa Bangkitkan Garuda

Pieter Huistra, direktur Teknis PSSI jadi pelatih interim timnas Indonesia, Garuda. Upayanya membesut timnas lawan Taiwan dan Irak tidak akan menuai hasil positif, sebab kondisi saat ini terlalu runyam.


Eka Tanjung dari Sepakbolanda mendapat banyak pertanyaan dari kawan-kawan di media sosial. Pertanyaan menyangkut pendapat soal penunjukkan Pieter Huistra sebagai pelatih timnas ad interim menggantikan Benny Dollo. 

Sebagai pengamat sepakbola yang sudah hampir 30 tahun berdomisili di Belanda, maka Eka Tanjung sedikit banyak mengenal persepakbolaan Belanda. Teristimewa pemain #keturunan yang punya ikatan dengan Indonesia. 


Soal pelatih Pieter Huistra, sebelumnya Sepakbolanda sudah pernah menampilkan di blog ini. Huistra sejatinya bukan pelatih pertama Belanda yang menangani timnas Indonesia. Sebelumnya sudah ada empat pendahulunya.
  • Wiel Coerver (1975-1976) 
  • Frans van Balkom (1978-1979)
  • Henk Wullems (1996-1997)
  • Wim Rijsbergen (2011-2012)
Terhitung dari sekarang masih satu bulan penuh, masa persiapan menuju dua pertandingan yang dicanangkan dalam rangka Kualifikasi Piala Dunia 2018. Pertama tandang ke Taipe, Taiwan, 11 Juni 2015. Lima hari kemudian 16 Juni 2015 menerima kunjungan Irak di Jakarta. 

Sebelum bicara pertandingan Eka Tanjung masih ingin mengajak untuk menengok permasalahan yang kemungkian akan muncul dan berpengaruh pada hasil.

1. Keputusan pemerintah untuk membekukan pengurus PSSI, berdampak pada kemungkinan skorsing oleh FIFA, badan sepakbola dunia. 

2. Kompetisi ISL atau QNB yang ditunda mengakibatka para pemain timnas kehilangan stamina dan ketajaman. Ini baru soal fisik pemain saja. 

3. Eka Tanjung paling mengkhawatirkan kondisi mental para pemain timnas Indonesia, yang menyaksikan kondisi kepengurusan sepakbola nasional terus diwarnai kisruh. 

4. Pemain yang menatap masa depan tidak pasti, berpengaruh pada konsentrasi pemain. Gaji yang belum tentu diterima, karena klub terus terbebani anggaran dan upah pemain. Sepakbolanda membaca berita tentang Cristian Gonzales yang ingin menjual apartemennya. 

Masih banyak faktor lain yang juga akan membuat kondisi persiapan jauh dari optimal. Bagaimana seorang Pieter Huistra yang belum punya track-record bagus sebagai pelatih di FC Groningen dan De Graafschap, mampu membangkitkan timnas Garuda?

Dalam kondisi normal saja, masih berat bagi pelatih bisa meramu strategi untuk negara di urutan 159 FIFA. Sementara itu tim lawannya sudah melakukan persiapan dengan baik dan bisa fokus penuh dengan pertandingan. 

Eka Tanjung hanya bisa mengimbau dan mengajak kawan-kawan untuk berfikir jernih dan tidak menghakimi prestasi pemain maupun pelatih timnas Indonesia saat ini. Mari kita berbesar hati bahwa mereka merupakan bagian dari generasi masa transisi. 

Lebih penting adalah hasilnya setelah beberapa tahun kemudian, setelah program pembibitan usia dini di Indonesia benar-benar digulirkan dalam kompetisi amatir yang meluas di semua jenjang usia, dari kurcaci U5 sampai dengan U23. 

Meniru dan mencontoh model yang sudah diterapkan di Belanda dan Belgia, maka setelah 10 tahun berjalan maka, Sepakbolanda yakin Indonesia akan menuai generasi emas, ketika itu kita akan memaknai masa sulit sekarang ini sebagai pengalaman yang berarti. Semoga!