Minggu, April 12, 2015

FIFA Seperti Buta Kondisi Indonesia

Senang mengamati perkembangan sepakbola di Indonesia. Kian hari kian jelas ada peletakkan pondasi sepakbola nasional yang sehat dan terukur. Penulis sekaligus merasa tersengat oleh respon FIFA yang terkesan tidak mengenal kondisi sepakbola kita. 


Penulis kesal kepada FIFA, selama ini organisasi terbesar sepakbola sejagad itu jadi kritikan karena sepertinya ingin menjadi sebuah kerajaan sendiri, dengan presiden Sepp Blatter yang mengangkat diri sebagai rajanya. Indonesia bukan bagian dari kerajaan sepakbola.

Mengejutkan juga ketika FIFA terbaca membalas surat Kemenpora dalam kaitan penyelenggaraan kompetisi nasional di Indonesia. Penjelasan secara baik-baik oleh lembaga Indonesia setingkat kementrian, terkesan tidak diseriusi.

Jangan Kendur
Penulis berharap Kemenpora dan BOPI tidak kendur semangat setelah menerima jawaban dari FIFA. Soalnya kalau yang enak-enak FIFA bisa kecipratan, tapi ketika di Indonesia ada pemain sepakbola meninggal dunia karena tidak menerima upahnya, FIFA tinggal teriak-teriak dan main ancam.

Dan kalau ada kasus, maka kami bangsa Indonesia terkena imbasnya di mata dunia. Mereka bukan hanya menyalahkan PSSI sebagai pengurus sepakbola nasional, tapi pemerintah dan citra seluruh bangsa Indonesia jadi cemar. Nah kalau sudah begitu FIFA kemana?

Maka dari itu penulis sependapat dengan Gatot S. Dewa Broto, Kepala Komunikasi Publik Kemenpora:"FIFA harus menyadari sepenuhnya, bahwa Kemenpora dan BOPI justru sudah membantu FIFA untuk menegakkan aturan tanpa harus intervensi."

Aku rasa semua sependapat bahwa klub-klub harus sehat secara finansial dan punya peduli sosial yang tinggi. Agar tidak ada lagi kasus pemain mati atau terlantar karena tunggakan gaji.

Bilamana selama ini tidak ada yang mengingatkan klub akan hal itu, maka sekarang Kemenpora dan BOPI menurutku WAJIB menanggung tugas itu. Penulis akan kecewa kalau Imam Nahrawi diam saja, seakan semua lancar dan mulus saja.

Kalau saja FIFA mengetahui kondisi dan perkembangan sepakbola dan kekecewaan mendalam di masyarakat akan sepakbola, maka organisasi bola dunia itu akan senang terbantu Kemenpora dan BOPI yang mencoba meletakkan pondasi sepakbola sehat di Indonesia.

Dalam hal ini penulis menilai PSSI yang sudah memiliki jalur komunikasi dengan FIFA bisa menjelaskan urgensi akan perubahan yang dilakukan di Indonesia. Aturan harus diperketat demi mengajak klub berubah paradigma tentang pengelolaan sepakbola secara profesional.

Termasuk pengelolaan akademi sepakbola yang memberi peluang bagi bakat-bakat lokal berkembang menjadi pemain handal. Seperti dikatakan Ricardo Moniz, pelatih #keturunan Indonesia di Belanda. Bahwa kalau Indonesia bisa memilih sebuah sistem dan visi jelas tentang sepakbola, maka dalam 10 tahun akan muncul generasi yang mengejutkan dunia. Memulai dengan melatih ribuan pelatih yang menguasai dengan baik 100 trik sepakbola dan bisa mencontohkan secara sempurna kepada murid-muridnya. Maka, kata Moniz, Indonesia bisa bangkit dalam 12 tahun. Seperti halnya di Belanda.

Klub-klub prof Belanda juga diwajibkan mematuhi syarat-syarat ketat finansial. Kalau dilanggar maka klub bisa kehilangan lisensinya. Klub diharapkan memiliki akademi pendidikan. Selain itu klub juga harus memiliki jiwa sosial tinggi. Melakukan kegiatan charity seperti mengirim pemain menghibur penghuni panti-2 asuhan, rumah jompo, mengajak main anak-anak penyandang cacad mental dll.

Serempak
Penulis berharap Kemenpora dan BOPI juga mengajak semua jajaran olah raga di Indonesia melakukan kegiatan sosial. Sebulan sekali mengajak anak-anak jalanan dan di perkampungan main bola, main basket, golf, berrenang bersama. Agar anak-anak senang menjadi warga Indonesia dengan olah raga yang propesional.

Dari semua pernak pernik ini, penulis sejatinya sangat senang karena salah satu persoalan yang menjadi sumber kemerosotan sepakbola nasional mulai dibincangkan. Jika persoalan yang selama ini dinistakan atau diabaikan, sekarang mulai disebutkan, dibicarakan dan didiskusikan. Walau sakit, tapi ini perkembangan yang menjanjikan perbaikan bagi bangsa Indonesia. Kalau FIFA tidak peduli pada kita, mengapa kita harus peduli pada mereka?