Kamis, Februari 19, 2015

Inikah Pelatih Baru Timnas Indonesia?

Pic: Wikipedia NL

Mengacu berbagai sumber di Indonesia, muncul nama Aad de Mos sebagai pelatih baru timnas Indonesia. Siapa sosok 67 tahun ini dan apa kaitan dengan Pieter Huistra, Direktur Teknik Timnas Indonesia?


Asosiasi Sepakbola Nasional Indonesia, PSSI sendiri belum menentukan nama pelatih baru timnas Indonesia. Namun demikian Sepakbolanda sudah membaca: Aad de Mos disebut di media Indonesia dan juga oleh kalangan pemerhati timnas Garuda sebagai pelatih baru timnas Indonesia. 


Walau Joko Driyono sekjen PSSI sendiri tidak menyebutkan nama, tapi Eka Tanjung tidak heran kalau memang Aad de Mos yang kelak menukangi timnas Indonesia dalam beberapa laga persahabatan mendatang. Dia memang teman baik Direktur Teknis PSSI, Huistra.

Sepakbolanda sebagai pencinta sepakbola Indonesia dan berdomisili di Belanda, tertarik mengikuti perkembangan ini. Sepakbolanda cukup kagum dengan rekam jejak pelatih yang hampir 68 tahun. Pretasinya bisa disimak di wikipedia. Aad de Mos pernah menangani berbagai klub besar dan kecil.  

1982–1985 Ajax Amsterdam
1986–1989 KV Mechelen (Belgia)
1989–1992 Anderlecht (Belgia)
1993–1995 PSV Eindhoven 
1995–1996 Werder Bremen (Jerman)
1997–1998 Standard Liège (Belgia)
1998–1999 Sporting Gijón (Spanyol)
1999–2000 Urawa Red Diamonds (Jepang)
2000–2002 KV Mechelen (Belgia)
2003–2004 Al-Hilal
2004–2005 Persatuan Arab Emirates
2006–2008 Vitesse (Arnhem)
2009–2010 Kavala 
2010 Sparta Rotterdam

Mentereng
Pria jangkung, 192 cm itu memulai karir sepakbola di ADO Den Haag. Sebagai pemain, pria beranak satu itu tidak istimewa. Namanya justru memuncak ketika menjadi pelatih. Prestasinya tampak mentereng di era 1980an. 


Dasawarsa
Dua kali mengantar Ajax Amsterdam juara liga Belanda, Eredivisie (1982-1985). Lalu membawa klub Belgia, KV Mechelen menuju masa puncak kejayaan dalam sejarah klub ini. 1987-1988 merebut gelar Europacup II (Eropa League) setelah mengalahkan Ajax di final. Dan beberapa bulan kemudian merebut gelar Super Cup UEFA dengan menaklukkan PSV Eindhoven. Pria kelahiran 27 Maret 1947 itu juga mengantar RSC Anderlecht menjuarai Liga Belgia (1989.) 


Sepanjang tahun 1980an, bisa dikatakan sebagai dasawarsanya Aad de Mos. Meraih prestasi fantastis dengan klub-klub besar di Belanda dan Belgia.

Meredup
Memasuki tahun 1990an, ternyata dia tidak bisa melanjutkan torehan prestasi baiknya. Walaupun dia dipercaya menangani berbagai klub Spanyol, Jerman, Jepang bahkan sampai ke timnas Arab Emirat tapi tidak pernah bisa mengulang pamornya.

Kemerosotan prestasi pribadi ini yang sebenarnya menjadi pertanyaan banyak kalangan di Belanda. Apa yang terjadi dengan pelatih satu ini? Apakah ramuannya tidak manjur lagi? Besutannya tidak jalan lagi?

Catatan PSSI
Dua klub terakhir yang dibesutnya adalah Kavala dari Yunani dan Sparta Rotterdam. Selama berkerja di dua klub ini, Aad de Mos tidak merampungkan tugas sampai akhir. Dia hengkang di tengah jalan. Ini penting, untuk PSSI, kalau benar akan memakai jasa Aad de Mos. Usahakan untuk membuat kesepakatan dengan jelas. Sebab kalau dia merasa janji tidak ditepati, bisa jadi dia pergi begitu saja.


Pengamat Sepakbola
Lima tahun terakhir, sejak dipecat dari Sparta tahun 2010 De Mos tidak pernah lagi melatih tim. Tidak pernah lagi menyentuh rumput. Dia sepertinya cocok untuk karir ketiganya. Setelah menjadi pemain, melangkah menjadi pelatih dan sekarang di Belanda dan Belgia, dia laris sebagai : Komentator atau Pengamat Sepakbola.


Analisa Tajam
Dia kerap diundang di banyak acara sepakbola di televisi Belanda dan terutama di Belgia. Analisanya tajam dan kadang cenderung sinis. Sepakbolanda menyukai De Mos sebagai pengamat dan visinya untuk mengembangkan program pembibitan usia dini. Sebenarnya dia lebih cocok untuk menjadi direktur pendidikan usia dini, bukan pelatih. Karena dia sudah tidak biasa turun di lapangan.


Indonesia Beda
Melatih timnas Indonesia beda dengan Belanda atau negara mapan lainnya. Pemain Indonesia akan lebih cocok dengan pelatih yang langsung memberi contoh. Coach yang turun ke lapangan langsung, seperti model Wiel Coerver.  Kalau untuk pelatih Belanda atau Jerman, cukup dengan memberikan pengarahan strategi, bisa jalan. De Mos adalah tipe yang cocok untuk negara mapan.


(Video) Pelatih Aad de Mos didampingi asisten Pieter Huistra di Vitesse Arnhem.




Hubungan Huistra
Jika benar calon pelatih yang santer diisukan itu adalah Aad de Mos, maka Sepakbolanda bisa menduga bahwa pilihan itu kental dipengaruhi oleh Direktur Teknis, Pieter Huistra. Antara De Mos dengan Huistra ada masa silam bersama.


Keduanya pernah bekerjasama ketika Aad de Mos menjadi pelatih Vitesse Arnhem pada musim 2007/2008. De Mos melatih Vitesse didampingi asisten Pieter Huistra dan Dick de Boer. Jadi pilihan pada De Mos, menurut Sepakbolanda, kental campur tangan Direktur Teknis PSSI ini. 

Motivasi
Yang menjadi pertanyaan Sepakbolanda: Apa motivasi seorang pelatih timnas? Apakah karena dia punya ikatan keturunan dengan Indonesia? Atau karena cinta pada timnas ini (Garuda)? Apakah karena dia merasa bertanggungjawab untuk memajukan sepakbola Indonesia? Apakah karena tertarik dengan budaya Indonesia? Atau karena tidak ada kerjaan lain?

Redup
Kalau pilihan pelatih didasari pada ikatan pertemanan, Sepakbolanda meragukan hasilnya. Apalagi kalau pelatih ini di Belanda sendiri sudah tidak diseriusi. Karena prestasinya sudah merosot. Apa artinya nama besar kalau di negeri sendiri dijuliki, "Pelatih ini masa kadaluarsanya sudah habis." Semoga analisa Sepakbolanda salah besar. 


Silakan saja lah, semoga Aad de Mos bisa mengantar Garuda melambung tinggi dan menjadi juara!