Kamis, Januari 29, 2015

Jika Anak Ingin Jadi Pemain Sepak bola Profesional





Salah satu tugas orang tua, membesarkan anak hingga mandiri. Kadang kemauan anak dan orang tua bisa berbeda. Menuruti kemauan sang buah hati meraih cita-cita, butuh kejelian dan kesabaran. Bagaimana kalau ingin jadi pemain sepakbola? TanjungPro punya solusi terbaik mengukur bakat sepakbola. 



Jikalau anak ingin jadi dokter atau insinyur, jalur dan programmnya sudah jelas. Tidak sulit, karena jenjangnya sudah tertata dan banyak contoh. Tapi bagaimana jika ingin jadi pesepakbola profesional? 
  • Benarkah anakku ini memiliki potensi menjadi pemain profesional?
  • Langkah apa saja yang harus dilakukan?
  • Kemana dia harus melanjutkan pendidikan sepak bolanya?
  • Siapa pelatih yang paling cocok untuk anak saya?
  • SSB Mana yang terbaik?
Lumrah kalau orang tua kaget, gembira, sedih, bingung ketika mendapati putranya ingin jadi pemain sepak bola profesional. Perasaan tentu bercampur aduk. Apakah dia bisa menjadi besar sekaliber Bambang Pamungkas, atau Rony Pattinasarany atau Lionel Messi? Kebimbangan yang sangat lumrah. 

Di satu sisi bangga karena anak yang bisa mengurakan ambisinya, obsesinya, cita-citanya. Menarik sebenarnya untuk menggali latar belakang atau motivasi keinginan menjadi pemain profesional ini. Sebab di Indonesia sendiri, pemain sepakbola profesional menghadapi berbagai masalah. 

Di sisi lain, motivasi yang sudah terucap oleh putranya itu bisa jadi memang benar.
Menyadari kompetisi sepakbola Indonesia belum tertata dengan baik. Tidak banyak sekolah sepak bola yang mapan dan melahirkan pemain-pemain profesional tingkat internasional. Dan ketika mendengar kejanggalan-kejanggalan dalam sistem seleksi pemain klub maupun timnas, membuat kepercayaan terhadap sistem menipis.

Mencium aroma ketidakadilan dan kejanggalan itulah yang mendorong para orang tua dari Indonesia melirik ke pendidikan sepakbola di luar negeri. Eka Tanjung kerap menangkap cerita dan kisah kekecewaan mengenai persepakbolaan di dalam negeri. Dengan berbagai pengalaman yang tidak sedap, memaksa orang tua mencari pemecahan di luar negeri. Terutama ke Belanda.

Tesulut oleh motivasi dan semangat anak untuk maju memaksa orang tua berusaha maksimal mencari sekolah sepak bola, seleksi bakat sepak bola, dan tournamen di luar negeri, khususnya di Belanda. Eka Tanjung melihat belasan orang tua yang berinisiatif sendiri berangkat mengantarkan putranya ke Belanda. Kadang dengan berbekal informasi yang masih sangat minim.
Eka Tanjung menyarankan orang tua agar melakukan persiapan dengan matang sebelum berangkat ke luar negeri. Terutama mengenai informasi kegiatan sepak bola yang diinginkan. Sebaiknya tidak langsung percaya janji-janji muluk bisa langsung sukses di Eropa. Penulis pernah menemukan beberapa kasus bakat Indonesia datang ke Belanda dengan tujuan trial di klub profesional. Tapi sesampai di sini akhirnya, janji itu tidak terrealisasi. Waktu dan beaya besar terbuang tanpa hasil yang diharapkan.
Dua tahun silam Eka Tanjung mendapati orang tua yang ikut tur dari Indonesia. Ia mengeluh karena putranya tidak ikut tour stadion Arena dan Museum Ajax, karena hari itu stadion tutup sehubungan konser musik. Keburu harus kembali ke Indonesia maka sangat disayangkan, kegiatan ikut tour Stadion ArenA yang menarik itu, batal.
Contoh lain adalah memilih kegiatan yang pas dan cocok akan lebih mudah kalau koordinir langsung dari Belanda. Hal lain yang perlu diwaspadai adalah janji surga dari saudara atau rekan di Belanda yang menganggap mudah untuk menghubungi dan mendaftarkan anak masuk klub.
Seringnya klub tidak bisa dan mau memasukkan pemain asing, langsung ikut kompetisi. Untuk mencegah hal-hal yang berpotensi mengecewakan, maka Eka Tanjung menawarkan diri untuk memberikan konsultasi dan bimbingan bagi Anda yang berencana membawa putranya untuk melakukan kegiatan sepak bola di Belanda atau di negara lain Eropa.


Untuk keterangan lebih lanjut hubungi: