Kamis, Desember 18, 2014

Redam Kekerasan, Malaysia Bisa Belajar dari Indonesia

Rabu dini hari Thailand dan Malaysia menggelar leg pertama partai final Piala AFF 2014. Thailand menang 2-0.

Laga ini disiarkan lewat internet, tapi Sepakbolanda tidak sempat menyaksikan secara langsung. Dari berbagai sumber dan komentar tampaknya pertandingan itu berlangsung sangat ketat.



Beberapa kali terbaca bahwa Malaysia main terlalu keras. Opini dari Vietnam berujar, "Saya tidak benci timnas Malaysia, tapi benci kekerasan... Kami berharap Thailand sukses di leg 2." 


Kritik tentang kekerasan Malaysia itu tidak hanya sekali diluncurkan. Seorang lagi menyebutkan: "Tolong kasih tahu timnas Malaysia bahwa stadion Rajamangala itu untuk sepak bola. Kalau mereka ingin Muay Thai (bela diri Thailand red.) silakan ke stadion Lumpini."

Satu lagi menyebutkan: "Malaysia bermain keras, silakan nonton rekaman penuh pertandingan."



Eka Tanjung dari Sepakbolanda terkejut membaca komentar mengenai kekerasan oleh Malaysia ini. Bukan saja keluhan mengenai pemain besutan Dollah Salleh ini, tapi juga suporternya yang diberitakan melakukan kekerasan di ketika usai leg 1 Semi-Final lawan Vietnam

Ada apa dengan Jiran di Punggung Kalimantan ini? Kekerasan tidak identik dengan bangsa itu. Padahal kalau mendengar tutur kata dan pemilihan kalimat-kalimat Bahasa Melayu, terdengar sangat lembut dan bersahabat.

Cerminan Bangsa
Mengaca pada ungkapan Johan Cruyff : "Sepak bola adalah pencerminan dari bangsa." Maka bisa dikatakan Malaysia sekarang ini sedang dilanda krisis publikasi yang kurang baik. 


Belakangan ini berita tentang Malaysia, berisi kekerasan dan musibah. Setelah dua pesawatnya mengalami kecelakaan yang tragis. Sekarang sepak bolanya mendapat nama yang kurang baik pula. 

Sama Krisis
Kalau membandingkan dengan situasi Indonesia saat ini, tampaknya tidak jauh berbeda. Indonesia sedang mengalami krisis sepak bola dan persatuan bangsa sedang terganggu pasca Pemilu Presiden 2014. Satu kubu pendukung Presiden terpilih Jokowi dan satu kubu tidak terima Jokowi. Pertentangan ini juga tercermin pada kondisi sepak bola Indonesia saat ini. 


Kerjasama
Dalam kondisi ini Sepakbolanda menilai sudah sebaiknya Indonesia dan Malaysia bekerja sama. Sebab tidak ada satu negara di dunia ini yang memiliki banyak kesamaan seperti Indonesia dan Malaysia.


Indonesia, mengacu pada sepak bola Gajah, bisa belajar dari Malaysia main keras dan menggunakan navigasi menemukan gawang lawan. Sebaliknya Malaysia perlu belajar dari Indonesia untuk tidak menggunakan kekerasan. Buktikan di leg terakhir nanti di Bukit Jalil. Penonton dan pemain jangan pakai kekerasan!