Senin, Desember 15, 2014

Indonesia Bisa Belajar dari Coach John van den Brom




Salah satu batu ujian terberat bagi bakat sepak bola adalah tembus tim utama di liga profesional. Tidak semua coach berani mengambil resiko men-debut-kan bakat. John van den Brom adalah pengecualian.

©Wikipedia

John van den Brom, coach AZ Almaar dikenal sebagai pelatih yang tidak takut mencoba bakat hasil pembibitan klub untuk main di tim utama. Penerus Marco van Basten itu, dalam beberapa bulan sudah berani menurunkan pemain hasil pembibitan Akademi AZ Alkmaar. Sebagai contoh: Thom Haye ‪#‎keturunan‬, Wesley Hoedt, Ridgeciano Haps dan Dabney dos Santos menjadi bagian tim utama AZ berkat keberanian coach bernama lengkap Joseph Anthonius van den Brom itu.



"Setiap klab sepak bola, fans, semua orang ingin melihat tim berisi pemain hasil pembibitan sendiri. Memang terkadang perlu faktor kemujuran juga. Tapi saya tidak pernah takut mencoba itu. Saya kasih mereka peluang. Inilah aspek terindah dalam profesi kepelatihan."

Dan di masa silam Van den Brom juga men-debut-kan: Nacer Chadli, Dries Mertens, Jens Toornstra dan Lex Immers. Sampai detik ini Necer Chadli, winger timnas Belgia dan Tottenham Hotspur itu tidak pernah melupakan jasa pelatih kelahiran 4 Oktober 1966 itu.

©Wikipedia
“Saya sempat berfikir untuk berhenti main sepak bola. .. sampai akhirnya John van den Brom memberi saya kesempatan di AGOVV. Ini merupakan kebangkitan saya. Mulai dari divisie dua ke juara liga Belanda, FC Twente. Sampai sekarang saya berterima kasih pada John van den Brom”
Terima Kasih
Ungkapan luar biasa dari Nacer Chadli yang sudah nyaris dicoret dari dunia sepak bola. Eka Tanjung dari Sepakbolanda merinding membaca ungkapan jujur seorang bintang. Kebangkitannya dan ungkapan terima kasih kepada coach yang memberinya kepercayaan.

Bangga dan Haru
Sepakbolanda tidak punya pengalaman sebagai coach tapi berasal dari keluarga guru. Ungkapan syukur dari Chadli itu adalah 'penghargaan' yang tak ternilai bagi seorang coach. Barangkali setiap coach atau guru akan bangga. Termasuk coach dan guru-guru di Indonesia.