Minggu, November 16, 2014

Pesepakbola Cilik Indonesia Meninggal di Belanda

Sumber: AT5

Bocah Indonesia berusia 10 tahun yang bermain sepak bola di klub Amsterdam SDZ, meninggal dunia akibat penusukan. Pelakunya seorang dewasa 46 tahun, konon ayah kandungnya sendiri.

Update: Pemakaman Berlangsung Selasa besok di Amsterdam.

Sepakbolanda bersedih dan berkabung membaca berita nasional Belanda itu. Hampir semua media besar dan kecil mengabarkan musibah ini. Kamis 13 November malam hari disebutkan "Seorang bocah laki-kali 10 tahun meninggal akibat penusukan." Baik ayah maupun ibunya berasal dari Indonesia.

Sumber: Facebook

Pendiam Ramah
Regu penolong tidak berhasil menyelamatkan bocah yang bersimbah darah di Spaarndammerbuurt Amsterdam. Anak malang bernama Ferdyan itu di mata tetangga dan kawan-kawannya dipandang sebagai anak yang Pendiam, tapi ramah. "Dia anak pendiam. Tapi selalu menyapa kalau berpapasan," ungkap seorang tetangga kepada media Belanda.


Pelaku?
Penyidikan sekarang ditangani pihak berwajib. Kemungkinan besar kepolisian Belanda akan melaporkan perkembangan kasus ini, baik soal pelaku maupun motif perbuatannya. Dalam tulisan ini Sepakbolanda tidak akan menyoroti terlalu jauh soal pemeriksaan pelaku.


Sebagai pengamat sepak bola #keturunan, Eka Tanjung dari Sepakbolanda terpukul membaca berita ini. Se harian mendalami kasus ini dan mulai mengenal kehidupan Almarhum Ferdyan lewat Facebook dan juga pemberitaan di socmed, media sosial. 

Dari laman Facebooknya, Sepakbolanda mendapat kesan dia anak yang pendiam, ramah, sayang pada orang tua dan keluarga. Tidak mau membicarakan aib keluarga ke orang lain. Ferdyan oleh keluarga dan teman-teman Indonesia biasa disapa Didik. Ia juga akrab dengan keluarga besarnya di Indonesia. Beberapa bulan lalu dia terlihat sangat senang berlibur ke Indonesia bertemu keluarga.

Madiun
Sejak musim 2014-2015 ini, Didik yang masih memiliki banyak keluarga di Madiun Jawa Timur itu bermain sepak bola di klub SDZ. Pelatihnya menamani Ferdyan, yang berposisi bek "pemain yang bermental sepak bola baik."

"Dia anak yang tenang, ramah dan selalu terlibat permainan," ungkap coach Dimitry Jansen. 

Semangat
Di klub avv SDZ, Ferdyan sudah dua tahun aktif sebagai kandidat pemain kompetisi. Baru musim ini dia terseleksi untuk kompetisi. Kegiatan setiap minggunya, dua kali latihan dan satu kompetisi di tim E6. "Kita bisa melihat, dia sangat semangat. Ketika baru diganti pemain lain, dia sudah bertanya 'kapan saya bisa masuk lagi?'" 



Klub Berkabung 

Pihak klub sangat terkejut dengan berita kematian Ferdyan Sjarifudin ini. "Sangat menyedihkan sekali. Membayangkan keadaan di keluarga itu." Sebagai ungkapan hormat kepada almarhum, maka klub avv SDZ membuat tempat khusus untuk ungkapan berkabung dan berbelasungkawa. 

Mengheningkan Cipta
Selain itu, semua pertandingan sepak bola klub SDZ, dimulai dengan mengheningkan cipta se menit mengenang bocah malang ini.


Ferdyan selalu datang tepat waktu untuk latihan, dan dia biasa datang sendirian. Terkadang naik sepeda dan kadang naik kendaraan umum. Hal ini disampaikan para pembimbing dan coachnya di klub. "Dia tidak pernah cerita tentang situasi di rumah."

Pelatih Jansen mengatakan hanya sekali saja bertemu ayahnya. "Anak-anak biasanya ditemani orang tuanya ke latihan. Saya salut pada dia (Didik) yang selalu datang sendirian."

Mandiri
Walaupun usia masih 10 tahunan tapi dia mandiri. "Setelah latihan Rabu malam, dia memberanikan diri minta izin ke ortu lain untuk numpang ke laga kompetisi away hari Sabtu."

"Ketika saya tanyakan kemana ayahnya. Dia katakan ayahnya ke mesjid atau tidak suka sepak bola," tutur pelatih kepada media Belanda, Parool

Kesan Baik
Hidupnya yang hanya 10 tahun, tetapi meninggalkan kesan yang baik bagi teman dan lingkungannya. 


Sekolahnya Spaarndammerhout menggelar acara khusus mengenang fan Ajax dan Real Madrid itu. Mereka juga melakukan mars berkabung dari sekolah ke rumahnya. Di dinding apartemen tampak ada tulisan "Waarom? R.I.P. Ferdyan" Mengapa?  Di tempat itu tetangga maupun kawan-kawan bisa meletakkan kenangan dan perpisahan dengan korban. 

Indonesia kehilangan pemain sepak bola cilik di Belanda. Walaupun bukan bakat yang luar biasa, namun kepergiannya terlalu cepat. Semoga arwahnya pergi dengan tenang dan mendapatkan tempat yang paling baik di sisi Allah. Amiin.

Tulisan ini menggunakan berbagai sumber:

Posting Komentar