Rabu, Oktober 29, 2014

Opini: Matur Nuwun PSS & PSIS !

Pekan ini Sepak bola Indonesia jadi perhatian publik dunia. Lima gol bunuh diri di laga PSS-PSIS adalah cerminan sepak bola Indonesia. Sudah sepatutnya Menpora Imam Nahrawi, sujud syukur menemukan celah memulai Revolusi Mental.

Berkat perhatian yang luar biasa ini sejatinya Menteri urusan Pemuda dan Olah Raga yang baru saja dilantik Presiden Joko Widodo bisa melihat kesempatan menangani permasalahan bangsa dari akarnya. 

Rentetan
Penulis melihat kejadian "memalukan" di putaran 8 besar Divisi Utama di Stadion Akademi Angkatan Udara  Yogyakarta pada Ahad (26/10/2014) sebagai straw that breaks the camel, satu dari serententan banyak kejadian-kejadian sebelumnya. Tidak ada case yang lebih pas dari kasus ini.

Sudah Lolos
Kasus ini tidak berdiri sendiri.  Baik PSS maupun PSIS sebenarnya kan sudah lolos ke babak selanjutnya, tapi mereka ingin kalah supaya terhindar dari Borneo FC di babak berikut.

Misteri Borneo FC
Rasa takut yang menghantui PSS dan PSIS itu harusnya dicari sebabnya. Karena menurut kabar burung, Borneo FC adalah tim yang "mustahil" bisa dikalahkan di kandang. Konon karena ada faktor pemain ke 12 atau ke 13, entah lah. 

Di pertandingan-pertandingan lain sepak bola kemungkinan terjadi pengaturan skor yang memakai istilah keren match fixing. Kalau diperhatikan, sejatinya kasus PSS-PSIS itu tidak separah match fixing, itu semacam survival strategy. Mereka mencoba bertahan untuk lepas dari jebakan berikutnya.  

Kasus serupa juga terjadi di cabang lain olah raga. Ganda campuran Bulu Tangkis Indonesia di Olimpiade London 2012. Diganjar Kartu Hitam karena wasit melihat kedua pasangan sengaja membuat kesalahan supaya kalah dan terhindar dari pasangan Sedeed 1 Tiongkok. Itu menurut penulis bukan match fixing.

Kesatria Terkerdilkan
Penulis yakin setiap olah ragawan maupun olah ragawati ingin selalu menang. Dan dengan cara yang paling sportif. Namun jiwa kesatria dan pemenang itu terkerdilkan oleh kondisi: takut tidak digaji, takut dipecat takut dimarahi oleh pelatih dan manajemen.

Penulis melihat kematian karakter sportivitas ini yang harus dibenahi oleh Menpora yang baru. Olah ragawan harus berani menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran. Tanpa harus takut dipecat atau tidak dibayar upahnya.


Kejadian PSS-PSIS ini jatuh pada hari yang sama dengan pengumuman Pak Imam Nahrawi sebagai Menteri Muda dan Olah Raga. Ini sebuah sinyal, bahwa beliau harus langsung memprioritaskan dan menuliskan dengan tinta merah "sepak bola" di agendanya.

Kasus PSS-PSIS ini langsung mengawinkan Imam dengan sepak bola Indonesia. Lima tahun tidak akan cukup untuk membenahi kondisi parah ini. Rivalitas antara saudara.

Persaingan yang muncul seputar pilpres lalu, bukan hal baru di sepak bola. Imbas kepengurusan sepak bola nasional yang sempat ganda beberapa tahun lalu, sampai sekarang masih terasa. Jauh sebelum pilpres 2014 ini.


Mau tidak mau, masalah sepak bola harus utamakan. Sebab sepak bola sebagai olah raga nomor satu di dunia dan Indonesia, maka kasus PSS-PSIS ini menjadi semakin memperburuk citra Indonesia di dalam dan luar negeri. 

Kristian Adelmund, bek Belanda di PSS menyaksikan langsung pertandingan itu. Ia tidak dimainkan karena sudah mengantongi kartu kuning dari laga sebelumnya. Sedianya ia disimpan untuk laga final. Kepada Eka Tanjung dari Sepakbolanda ia sangat tidak setuju dengan bunuh diri. 
"Hati saya remuk. Kita sudah membuktikan bisa menang di kandang lawan (Persiwa.) Berarti kita juga bisa menang dari Borneo FC. Tinggal selangkah lagi, berakhir begini." 
Pendapat orang asing dan dunia luar tidak penting, itu bisa saja kita cuekin. Toh kita tidak tergantung pada mereka.

Pendidikan PSSI
Tapi lebih penting dari itu adalah peran sepak bola sebagai alat pendidik. Peran itu sebagian besar ada dipundak para pejabat di Persatuan Sepak Bola Indonesia. Kejadian yang ada di dalam lapangan maupun di luar lapangan merupakan tanggung jawab jajaran PSSI. Kewenangan mereka atas dunia sepak bola Indonesia hampir mutlak. Dari bawah sampai atas, dari pelosok sampai Senayan. Mereka bukan hanya bertugas menghukum, tapi juga mendidik dan mengayomi.


Aspek sepak bola yang sukses di negeri ini itu berkat kerja keras PSSI. Sebaliknya kalau ricuh, itupun karena PSSI. Silakan dinilai dan disinergikan dengan program pemerintah. Kabinet Kerja pimpinan Presiden Jokowi ingin melakukan Revolusi Mental. Membentuk masyarakat yang bersih dan jujur, harus dimulai dari pucuk kepengurusan sepak bola. Kuatkan yang sukses dan benahi yang kurang. 

Soal strategi Imam Nahrawi sudah benar, seperti yang disampaikan kepada media:
"Ke depan kita harus sportif, terbuka, dan berjiwa besar, sehingga lahirlah atlet-atlet yang handal, pesepakbola yang bisa kita banggakan." 
Saat ditanya lebih spesifik tentang indikasi sepakbola Indonesia terasuki mafia dan juga match fixing, ia berjanji akan mencari informasi sebanyak-banyaknya.
"Saya akan lebih banyak mendengar, bertemu dengan pegiat-pegiat bola, para pejuang sepakbola. Kita akan mendengarkan," sahutnya singkat.

Selamat bertugas memulai Revolusi Mental dari Sepak bola, kami rakyat menanti trobosan.