Senin, Oktober 20, 2014

Indonesia Butuh Revolusi Mental Sepak bola

Belanda memiliki pendidikan sepak bola yang mapan, dengan kompetisi rutin setiap minggu memungkinkan untuk melacak bakat. 

Pada saat yang sama, negeri ini juga menyadari bahwa bakat saja tidak bisa menjamin sukses di kemudian hari. Akademi dan sekolah sepak bola memberikan ruang bagi si bakat tumbuh menjadi pribadi yang utuh.

Sepakbolanda mengambil contoh dua bocah di Belanda yang memiliki bakat bagus. 

Naci Ünüvar 
Bocah kelahiran Zaandam  (13-06-2003) itu tahun ini merupakan bagian dari Akademi Ajax Amsterdam. Pemain depan yang memfavoritkan Christiano Ronaldo dan Luis Suarez itu sejak 2011 lalu terjaring scout Ajax. 



Sebelum diterima Ajax, Naci mulai bermain sepak bola di klub amatir Zaandam, O.F.C (Oostzaanse Football Club). Berkat asuhan yang serius di klub tarkam itu, Naci yang berlatar belakang Turki itu diajak ayahnya mengikuti seleksi bintang di Jonger Oranje. 

Lirikan Scout
Pada acara jaring bakat di Zaandam tahun 2011, penyuka klub Real Madrid itu masuk lolos tim Jonger Oranje yang melakukan latih tanding lawan Ajax dan Sparta. Pada kesempatan itu scout Ajax terkesima dengan bakat cilik itu dan mengundang untuk gabung ke Akademi yang berbasis di kompleks de Toekomst.


Masih Panjang
Pemain berposisi gelandang serang atau striker di Ajax U12 itu sekarang menjadi bagian dari bakat yang berpotensi. Eka Tanjung dari Sepakbolanda melihat Naci memang memiliki modal bakat yang baik. Namun itu belum menjadi jaminan dia bisa tembus tim utama Ajax. Jenjangnya masih panjang, minimal 7 tahun. 


Dalam kurun tujuh tahun ini banyak faktor yang akan berperan. Disiplin waktu tidur, Pola Makan, Porsi Latihan, Pergaulan dan lainnya. 

Sebagai pemain keturunan Turki, Naci akan menghadapi pilihan memilih membela Belanda atau Turki. Sama halnya dengan bakat satu lagi di Akademi PSV Eindhoven, Ilyas Zaidan.

Ilyas Zaidan 
Bocah kelahiran (11-04-2003) ini memiliki darah Maroko. Ayahnya Shamss Zaidan inilah yang setiap hari mengajari putranya memperbaiki skill sepakbolanya. Sang ayah menyulap salah satu kamar menjadi lapangan mini sepak bola. Di sanalah dia setiap hari melakukan latihan sejak usia 3,5 tahun. 

Joga Bonito
Setelah memasuki usia kompetisi 5 tahun, Ilyas mulai masuk klub tarkam Unitas. Berlatih dua kali seminggu dan bermain kompetisi menjadi ajang mengasah kemampuan dengan rekan seusia. 


Shamss ayahnya yang juga mantan pemain sepak bola itu memberi tambahan porsi latihan di sekolah sepak bolanya Joga Bonito (Main Bagus). 




Jonger Oranje
Ilyas terseleksi di Akademi PSV di Eindhoven, berkat partisipasinya dalam acara jaring bakat di JongerOranje, seperti halnya Naci di Ajax. Berbagai scouts menghadiri acara pertandingan antara tim Jonger Oranje lawan PSV dan Willem II.


Jalan Panjang
Bagi Ilyas dan Naci, berlaku hal yang paralel. Mereka memang memiliki bakat yang baik. Potensi untuk menjadi bintang besar. Dan memiliki darah imigran Turki dan Maroko. Jalan bagi keduanya masih sangat panjang, dan segalanya masih bisa berubah.

Berlian itu masih harus diasah dengan baik dan benar. Penuh kasih sayang dan kesabaran.

Rutinitas
Eka Tanjung dari Sepakbolanda yakin bahwa Indonesia juga memiliki banyak pemain berbakat. Jalan mereka lebih panjang lagi. Hambatan di Indonesia juga berbeda. Sebagai contoh kompetisi rutin dan persaingan sehat dengan rekan se usia dan se level. 


Revolusi Mental
Sepakbolanda yakin jika Indonesia memiliki fasilitas dan kesungguhan seperti di Belanda, maka kita akan punya banyak Ilyas dan Naci yang mengangkat nama Indonesia di masa depan. Untuk itu diperlukan Revolusi Mental pada bangsa ini.