Senin, Februari 24, 2014

Carmen Manduapessy Satu Lagi Keturunan di Ajax Amsterdam

Sepak bola wanita Indonesia kurang mendapat perhatian, dibanding cabang pria. Namun demikian Indonesia memiliki beberapa wanita #keturunan yang bermain di klub besar Eropa. Antara lain Carmen Manduapessy dan Riana Nainggolan. Kali ini Carmen di Ajax Amsterdam.


BeNe League
Perbincangan berlangsung di pusat pelatihan Ajax, de Toekomst seusai latihan rutin. Ajax berlaga di Beneleague, kompetisi sepak bola wanita antar 14 klub terbesar Belgia dan Belanda. Saat ini Ajax menduduki urutan dua di Beneleague. Carmen kepada Sepakbolanda mengatakan bahwa dirinya senang bermain di Ajax.


Kombinasi Kerja dan Sepak Bola
Sejak tahun 2012 dia menandatangani kontrak di de Toekomst. Selain sebagai pemain sepak bola, Carmen juga bekerja bidang administrasi urusan supporters Ajax  "Di awal saya butuh waktu adaptasi, karena sempat cedera. Tapi semakin lama semakin baik. Klub ini mencirikan kekeluargaan, memiliki fasilitas yang baik. Pelatih yang berkualitas."

Kombinasi bekerja di Ajax dan menjadi pemain sepak bola memungkinkan Carmen bisa melakukan keduanya dengan baik. Siang hari ke kantor dan sorenya latihan sepak bola.

Sejak Lima Tahun
Ia memulai sepak bola sejak usia lima tahun. Bermain dengan anak-anak lelaki yang lebih besar di kampungnya di Groningen Belanda Utara. Pernah mencoba atletik, tetapi hanya satu kali. Mengikuti kakaknya bermain senam juga kandas di tengah jalan. "Saya tidak suka atletik, dan cabang senam juga kurang suka. Hanya ikut-ikutan kakak Saya inginnya sepak bola."

Negatif-Positif
Wanita kelahiran 28 September 1991 itu bersyukur karena keinginan main sepak bola mendapat dukungan dari keluarga. Baginya suara sumbang tentang sepak bola wanita, justru memberinya ekstra motivasi untuk berkembang.

U23 di Belanda
Ditanya soal perkembangan sepak bola Indonesia, putri kedua pasangan Freddy dan Jolanda Manduapessy itu mengakui kurang tahu banyak. Ia mendengar pertama kali mengenai sepak bola Indonesia pada tahun 2006 lalu. "Saya mendengar ada tim dari Indonesia yang dilatih Foppe de Haan di Belanda Utara." Dia menilai bahwa level sepak bola Indonesia masih di bawah Eropa.

Walaupun belum pernah ke Indonesia, tapi Carmen mendengar cerita tentang negeri leluhur dari kedua orang tuanya dan paman yang sudah pernah ke Indonesia. Ia pun mengenal berbagai makanan tradisional buatan ayahnya.

Sepakbola Wanita
Menurutnya sepak bola wanita di Indonesia sulit berkembang karena terhambat oleh masalah keyakinan. "Sepak bola wanita di Indonesia kurang berkembang, menuru saya antara lain karena masalah Keyakinan yang tidak mengijinkan perempuan main sepak bola. Padahal olah raga itu baik dan sehat."



Aksi Konkrit
Carmen bukan saja menyayangkan situasi sepak bola wanita. Dia juga melakukan hal konkrit. Bersama sesama sepakbolawati keturunan Maluku, Roxanne "Rocky" Hehakaija, Carmen berpromosi ke negara-negara berkembang untuk menjelaskan manfaat sepak bola bagi perempuan.

Rio de Jeneiro
Mereka akan mengawali program pelatihan Maret 2014 di kawasan kumuh Rio de Jeneiro dengan tujuan pelatihan dan organisator kegiatan olah raga di daerah. Carmen akan terlibat langsung kegiatan ini dan berangkat ke Brasil, selama sepekan.

Indonesia ke Depan
Ditanya mengenai rencana jangka panjang dalam kaitannya dengan Indonesia. Carmen mengatakan bahwa ia ingin ke tanah asal leluhurnya. "Kunjungan ke sana merupakan salah satu dalam do list saya. Apalagi kalau bisa berkontribusi untuk memperbaiki posisi perempuan dan penyadaran akan pentingnya sepak bola Semoga nanti setelah Brasil ada saatnya ke Indonesia juga," pungkas Carmen Manduapessy dipenghujung perbincangan akrab.