Senin, November 18, 2013

Ruben Wuarbanaran Tidak Mau Gagal Lagi

24 November 2013 ini Ruben Wuarbanaran ke Indonesia bicara kemungkinan main di liga Indonesia. Bagi Ruben ini kesempatan kedua yang sangat dinantikan setelah namanya nyaris terlupakan.

Kepada Sepakbolanda.com Ruben Wuarbanaran menuturkan rasa bahagianya menyambut peluang baru di Indonesia. Inilah bagian pertama dari tiga seri perbincangan Sepakbolanda dengan Ruben Wuarbanaran.


Ruben datang ke Indonesia sebagai pebola, November 2010 dalam tim IndoHolland. Kemudian menerima panggilan seleksi timnas Indonesia awal 2011. “Untuk saya yang masih 20 tahun, panggilan itu merupakan penghargaan dan tantangan,” ungkap pemain kelahiran 15 Agustus 1990 itu.


Sejak awal Iman Arif, deputi Ketua Badan Tim Nasional berperan penting dalam proses pengurusan Ruben. 
“Saya awalnya ditelepon Iman Arif dan selang dua hari kemudian saya sudah berada di pesawat menuju Jakarta. Semuanya berjalan sangat cepat. Dalam lima hari saya berlatih empat kali bersama timnas Garuda U21 asuhan Alfred Riedl.”

Pada pekan yang sama Ruben juga mendapat tawaran kontrak klub. “Selang beberapa hari saya ditawari kontrak di Pelita Jaya. Semua seperti berjalan sempurna.” Menemukan klub baru dan bermain di timnas, adalah impian bagi karir pemain di Jong FC Den Bosch itu.


Keputusan ini mendapat dukungan Ruben dan keluarga besar Wuarbanaran di Belanda.  “Keluarga mendukung keputusan bermain di Indonesia karena akar keluarga kami di sana. Mereka sangat bangga dengan keputusan ini.”


Ruben diminta segera bergabung dengan Pelita Jaya, awal Februari. Apalagi 21 Februari dijadwalkan laga Indonesia menjamu Turkmenistan dalam rangka kualifikasi Olimpiade. 

Namun urusan paspor menjadi ganjalan, sampai menjelang laga lawan Turkmenistan belum juga rampung. "Karena alasan itu saya akhirnya tidak bisa bermain, padahal saya sudah lama menanti. Ayah dan kakak saya khusus datang dari Belanda, tapi mereka tidak bisa menyaksikan saya bermain. Sebuah kekecewaan besar."
Pelita Jaya
Tanpa bisa bermain lawan Turkmenistan, Ruben Wuarbanar memfokuskan diri pada klub Pelita Jaya. “Saya ingin sekali menunjukkan pada publik Indonesia, kualitas Ruben Wuarbanaran yang sesungguhnya.” 

Tetapi lagi-lagi itupun harus gagal jua. “Iman Arif mengatakan bahwa saya bisa bermain untuk Pelita tapi ada masalah administrasi dan proses transfer tidak lancar sehingga tidak bisa ikut kompetisi.”


Ruben tidak bisa bermain pada paroh kedua kompetisi. Berarti harus menunggu sekitar enam bulan sampai musim baru kompetisi.  “Itu kekecewaan yang sangat besar. Saya datang untuk bermain sepak bola tapi ujungnya tidak juga bisa main. Sangat menyakitkan,” keluh Ruben kepada Sepakbolanda.


Saat itu Diego Michiels juga bergabung dengan Pelita Jaya. Kedua pesepakbola asal Belanda itu merasa senasib. “Walaupun urusan administrasi belum tuntas, kami memutuskan berlatih bersama Pelita Jaya. Tapi ketika kami muncul di lapangan langsung diusir oleh pelatih (Misha Radovic red.)  Pelatih beralasan, tidak ada gunanya berlatih kalau tidak bisa dipasang.”

Bagi kedua pemain, ini adalah perlakuan yang belum pernah mereka alami sebelumnya. “Kami belum pernah mengalami ini. Iman Arif mencoba menenangkan kami. Tapi setelah dua pekan, tidak boleh latihan, akhirnya saya atas izin Iman pulang kembali ke Belanda.”

Sejak di Belanda, kontak dengan Iman Arif mulai berkurang dan muncul masalah dengan Pelita Jaya. 


[Bersambung bagian kedua kisah Ruben Wuarbanaran.]

Posting Komentar