Minggu, Maret 10, 2013

Ada Celah Sekolah Sepak Bola ke Belanda

"Om ini video Yussa terbaru," demikian bunyi pesan Yussa Nugraha  11 tahun, kepada sepakbolanda.com. Sejak sebulan ini Yussa mencoba mengikuti anjuran sepakbolanda.com membuat rekaman video tentang kegiatan sepakbolanya di Den Haag Belanda.




"Om aku sumbangkan 3 goal dari kemenangan (5-4) vv. Haagsehout vs Noordorp sv," Yussa sebenarnya masih belum pulih sepenuhnya dari cedera. "Yussa bermain save (hati-hati red.) karena Rabu sebelumnya Yussa cedera pada pertandingan turnamen amatir," demikian Yussa Nugraha kepada sepakbolanda.
Makin Semangat
Sepakbolanda menyarankan pada Yussa untuk membuat dan mengunggah video bukan untuk pamer, tapi semata untuk berbagi dengan kawan-kawan sesama di tempat lain. Sepakbolanda sangat mendukung, karena dengan demikian Yussa sendiri bisa mengabadikan kegiatannya, dan akan memberikan semangat padanya untuk bermain makin baik.  Berarti lebih serius training dan berlatih lebih keras. Buat yang menyaksikan juga akan ada gambaran tentang dunia pendidikan sepak bola di negara mapan sepak bola. Semoga buahnya manis buat dia, rekannya dan Tanah Air Indonesia.


Ketekunan 
Sebenarnya nasihat Sepakbolanda itu bukan hal baru. Banyak bakat sukses yang sudah membuat rekaman kegiatan sepak bola. Apalagi sekarang ini ketika hampir semua smart-phones dilengkapi dengan video kamera. Lionel Messi, Wesley Sneijder dan Tristan Alif Naufal sekalipun sudah memahami pentingnya rekaman video mulai sejak kecil. Orangtuanya begitu tekun membuat rekaman video yang akhirnya bermanfaat buat masa depan pemain itu sendiri dan bakat-bakat lainnya.

Masalah Visa
Sepakbolanda menyadari bahwa tidak semua anak memiliki kesempatan seperti dirasakan Yussa Nugraha. Bermain sepak bola di negara mapan sepak bola seperti Belanda ini. Sebab rekan-rekan Yussa di Indonesia yang mungkin memiliki kwalitas minimal sama, belum tentu bisa masuk ke Belanda dan mendaftarkan diri ikut kompetisi reguler di Belanda. Masalahnya di visa dan izin tinggal.

Non-Eropa
Sebab klub Belanda tidak diijinkan untuk mengontrak pemain di bawah usia 17 tahun. Apalagi kalau pemain  dari negara luar Uni Eropa. Syaratnya lebih sulit lagi dibanding dengan pemain dari dalam wilayah Eropa sendiri. Jadi sebagus apapun bakat dan non Eropa, kalau dia masih di bawah 17 tahun tidak akan mendapatkan kontrak dan mendapatkan visa berdasarkan kontrak itu.

Situasi Ideal
Namun bukan tidak mungkin untuk bisa menciptakan situasi seperti Yussa Nugraha. Ikut orang tua yang bekerja di Belanda. Situasi paling ideal untuk bisa sekolah sepakbola di Belanda. Karena dia akan mendapatkan kesempatan dan peluang seperti layaknya anak-anak Belanda, Uni Eropa. Sekalipun paspornya masih tetap Indonesia. Kalau sudah pengang izin tinggal MVV, maka main dimanapun tidak masalah.

Selama persyaratan visa Belanda bagi warga Indonesia masih sulit seperti ini, maka model Yussa Nugraha adalah pemecahan terbaik. Tapi sepakbolanda juga menyadari, bahwa tidak semua orang bisa begitu saja mendapatkan pekerjaan di Belanda. Apalagi saat ini ketika ekonomi Eropa sedang sulit.

Visa Turis
Sepakbolanda melihat celah lain yang lebih realistis dan bisa dilakukan banyak orang. Plan B ini adalah datang ke Belanda sebagai turis, mendapat ijin selama 60 hari. Kemudian diperpanjang menjadi 90 hari, dengan alasan yang jelas kepada IND (Dinas Imigrasi dan Naturalisasi Belanda.) Kesempatan total tiga bulan inilah kesempatan bagi pemain untuk bisa didaftarkan ke KNVB dan klub agar akhirnya bisa mengikuti kompetisi tingkat amatir.

Sepakbolanda menyadari bahwa proses ini tidak seperti membalikkan tangan, dan bisa rampung dalam sepekan. Untuk merealisasikan dibutuhkan persiapan waktu, mental, finansial dan administrasi yang matang. Baik di Indonesia, dan terutama di Belanda. Penginapan murah tapi sehat selama tiga bulan, mengurus izin tinggal di kepolisian, pendaftaran ke KNVB, administrasi ke klub penampung, pembimbing urusan luar lapangan: sekolah, transportasi, kesehatan, makanan dll.   

Dilirik Scout
Kalau sudah jalan dan bisa ikut training dan bermain kompetisi di klub serta kwalitasnya di atas ukuran Belanda, maka pemain ini kemungkinan dilirik dan didekati scout-scout klub besar. Mereka bisa diundang menyaksikan bakat yang sedang beraksi di lapangan. Harapannya tentu saja akan ada scout yang tertarik dan mengajak bicara soal masa depan.

Tiga Bulan
Sepakbolanda berhasil menghimpun data dan menemukan celah paling realistis ini untuk bisa merasakan kompetisi dan unjuk kebolehan di praktisi sepak bola Belanda. Tiga bulan tinggal di Belanda, bermain kompetisi resmi KNVB amatir Belanda. Mendapatkan pendidikan reguler sekolah berbasis kurikulum pendidikan Indonesia. Sehingga si bakat Indonesia ini tidak akan ketinggalan pelajaran sekolah.

Ada Celah
Setelah si bakat ikut kompetisi selama tiga bulan di Belanda, dan dilihat oleh scout klub besar, harapannya ada impian-impian kecil yang tercapai dan terrealisasi. Dan di sini Sepakbolanda hanya ingin memberi gambaran: bahwa sebenarnya ADA celah yang bisa dimanfaatkan bakat Indonesia yang ingin main sepak bola di Belanda.


Sepakbolanda jadi ingat pepatah kuno: "Lebih baik satu anak burung di tangan dari pada 10 di pohon." Siapa tahu nanti besarnya jadi Garuda yang kekar!!

Posting Komentar