Kamis, Oktober 18, 2012

"Pemain Darah Indonesia Kalah di Fisik"

Tadi pagi di tempat fitness bertemu bapak tua berusia 60 tahunan. Dia mengaku pernah 50 tahun aktif di dunia sepak bola. Sejak 1972 sampai 1990 menjadi pelatih sepak bola di klub amatir. Ia menilai "Secara fisik keturunan Indonesia mengalami kekuarangan."


Menurutnya pemain keturunan Indonesia dan Maluku di Belanda kalah saing dengan keturunan Surimane dan Belanda sendiri. Kalah di fisik. Ia menyandarkan pada jumlah minim pemain keturunan Indonesia yang bermain di liga tertinggi de Eredivisie. "Secara fisik keturunan Indonesia mengalami kekuarangan. Rata-rata terlalu kecil, dibandingkan dengan keturunan Suriname." 

Tahamata vs Rijkaard
Bapak yang belum sempat menyebutkan namanya itu membandingkan Giovanni van Bronckhorst dan Simon Tahamata (keturunan Maluku) dengan Ruud Gullit serta Frank Rijkaards (Suriname Belanda) pemain yang sama-sama menjangkau level internasional. "Mereka (Gio dan Simon red.) memang berkwalitas eksepsional, istimewa. Tapi secara rata-rata keturunan Indonesia kalah saing di fisik." 


Irfan dan Andik
Dalam bathin aku mengakui, mayoritas ukuran fisik orang Indonesia memang lebih kecil dari Victor Igbonefo. Tapi tidak bisa dipungkiri, bahwa aku panas juga ketika bangsaku dikecilkan begitu. Tidak mau kalah, aku bilang Irfan Bachdim kecil tapi jago di Indonesia. Andik Fermansyah kecil tapi diminati Valencia, Galaxy FC dan United FC. 

Bapak ini tidak merespon argumenku karena tidak mengenal Irfan dan Andik. Sangking kesal aku juga bilang bahwa dia tidak mengenal sepak bola moderen: "Irfan itu followers di Twitternya 3 juta, lebih banyak daripada Wesley Sneijder yang cuman satu juta lho." Dalam bathin aku bergumam: "Enak aja lu Belanda Gemblung, ..!"

Melihat aku mulai panas, dia tampak tidak nyaman lagi lama-lama berdiskusi dengan suporter Garuda Full di kamar ganti pakaian, pagi itu. "Eh sebentar pak ya, Lionel Messi kan juga kecil, dia jago. Indonesia juga bisa punya 100 Messi," kataku. 

Dia menjawab, "Memang Messi pendek, tapi secara fisik dia itu kekar dan berotot, cepat dan tidak mudah dijatuhkan." Itulah akhir perbincangan dan perkenalan dengan pak tua yang mengaku sudah 50 tahun berkecimpung di dunia sepak bola."Oke saya permisi dulu ya."

Aku ditinggal sendirian di kamar ganti, sambil berfikir, "Soal fisik itu sebenarnya bukan fenomena baru. Orang Indonesia memang tidak sebesar orang-orang Afrika dan Eropa. Tapi kalau dibanding dengan generasi kelahiran tahun 1960 an, maka generasi baru sekarang lebih besar dan lebih tinggi."

Bagiku kita tidak perlu jadi juara dunia cabang yang menuntut badan tinggi, Bola Voli dan Basket. Tapi mohon jangan patahkan keyakinan ku bahwa Garuda bisa jadi juara Asia!"
Posting Komentar