Selasa, September 25, 2012

Bola Api Kisruh Sepak Bola Makin Liar


Pemain keturunan menjadi menarik bagi PSSI untuk memperkuat timnas Garuda di AFF2012. Ketika pemain kwalitas dari liga ISL tidak bisa dipanggil karena masalah kisruh, PSSI melirik pemain keturunan. "Pengharaman Naturalisasi" tampak mulai luntur, tetapi belum sempat kontak pribadi, PSSI sudah menfatwa Stefano Lilipaly "tidak nasionalis." Lagi-lagi ungkapan menyakitkan dan terkesan emosi, Sepakbolanda mencoba memahami.


Berbagai media online menampilkan ungkapan petinggi PSSI, seperti Bob Hippy dan Bernard Limbong yang kecewa dengan gagalnya mendatangkan Lilipaly. "Kapok dengan Stefano yang pasang bandrol mahal, Lilipaly tidak punya rasa nasionalis."  

Sepakbolanda pun ikut terperanjat, sebab selama ini belum ada komunikasi langsung dengan yang bersangkutan. Stefano Lilipaly bersumpah tidak pernah dikontak langsung pengurus PSSI.
"Sungguh, saya tidak menerima pesan apapun dari PSSI. Dari yang lain-lain malah ada, tapi tidak dari PSSI."


Aturan Main
Dia memang mengakui sempat berkomunikasi dengan beberapa anggota forum-forum diskusi. Tapi tidak memiliki kewenangan sama sekali dalam tubuh Asosiasi Sepak Bola tertinggi RI. Kepada mereka, Stefano pun menyampaikan bahwa 'aturan main' dalam pemanggilan pemain untuk timnas bermula dari asosiasi yang mengontak.  Bukan pemain yang harusnya nyosor-nyosor sampai mengiba untuk diseleksi.

Sepakbolanda membandingkan dengan Belanda, KNVB yang memiliki scout di berbagai liga besar Eropa dan Belanda yang memantau pemain berpotensi lolos timnas. Pemain kewajibannya adalah mempertajam performa bersama klub dengan harapan diundang ke timnas. 

Kembali ke kasus Lipaly, maka dia bersandar pada aturan itu. Aturan main seperti ketika ia dan Joey Suk memenuhi panggilan pelatih Alfred Riedl dari PSSI terdahulu, untuk ikut pemusatan latihan (Maret 2011.) Terlepas penilaian kita terhadap pengurus terdahulu, tetapi kalau soal pemanggilan pemain keturunan, PSSI terdahulu lebih efektif, pribadi dan konkrit.

Seanu
Ditanya soal harga yang mahal itu, Lilipaly mengutarakan kepada Sepakbolanda bahwa "Kalau pada pemanggilan sebelumnya (PSSI dahulu tahun 2011) saya mendapatkan uang saku seanu." Itulah yang mungkin disampaikan pada salah satu members forum FB. Entah bagaimana kejadiannya, mungkin jumlah itu plus minus lah yang terinformasi ke pentinggi timnas. 

Kalau dua tahun lalu bisa lancar memanggil dan akhirnya menaturalisasi beberapa pemain Victor Igbonefo, Greg Nkwolo, Jhonny van Beukering, Tonnie Cusell, mengapa sekarang tidak? Apakah Stefano tiba-tiba melipatgandakan harganya? Nuntut yang berlebihan? Aneh rasanya. Sebab dia tahu diri, sekarang main di Almere City FC liga dua, di bawah Eredivisie, liga tertinggi.

Anti Naturalisasi?
Sepakbolanda jadi teringat ungkapan kawan di forum Facebook yang mulai meraba-raba alasan sebenarnya sampai keluar ungkapan "Lilipaly Mahal dan Tidak Nasionalis."  Salah satu mengatakan "Mungkin karena PSSI memang tidak niat dengan pemain naturalisasi, kan mereka dari dulu sudah mengharamkan naturalisasi." Tuduhan itu sebenarnya sudah terbantahkan dengan masuknya Diego Michiels dalam skuad PSSI baru. Tetapi memang sejak PSSI dipimpin Djohar Arifin, sepakbolanda belum melihat menaturalisasi pemain dari Belanda. 

Murah vs Mahal
Ada juga kawan yang berteori bahwa "PSSI sekarang tidak punya duit, karena penyandang dana mulai menutup kucuran, APBD tidak boleh dipakai dan pemerintah menahan anggaran untuk sepak bola."  Bisa jadi ini juga yang membuat harga terasa mahal. Organisasi yang memiliki cukup dana, tidak akan berfikir panjang dalam membelanjakan anggarannya. Beda dengan organisasi yang sedang kesulitan uang, maka harga yang murah pun terasa mahal.

Kisruh 
Lebih menarik lagi mengamati, implikasi yang tersembunyi dari kasus Lilipaly. Ini bermuara pada masalah lama yang menyakitkan bagi kita semua. Rivalitas dan kisruh antara dua kubu bersengketa yang menyeret sepak bola ke jurang kehancuran. Pengharaman naturalisasi pada 24 November 2011 lalu, oleh sepakbolanda dimaknai sebagai sebuah mesiu untuk mencibir kubu lawan. Dugaan sepakbolanda: Diego Michiels mendapat tempat di timnas bukan semata karena kwalitasnya yang luar biasa, tetapi lebih sebagai penghargaan bagi keberaniannya 'menyeberang,' Sekarang Diego balik ke kubu seberang, maka tersandunglah dia oleh status indisipliner

Tidak Nasionalis
Ketika kisruh makin genting dan AFF makin dekat, maka batu biasa jadi senjata. Lilipaly adalah batu kecil yang bisa disambar langsung untuk melempar. Mungkin saja dibelakang layar terjadi persaingan ' memperebutkan'  gelandang idaman ini. Jadilah dia yang terkesan harus kena sasaran tembak dan sekarang difatwa "tidak nasionalis." Pahit memang bagi seorang Lilipaly yang tidak tahu apa-apa. Dahulu di fatwa "Haram" sekarang divonis "Tidak Nasionalis." Kalau menurut pandangan sepakbolanda, tingkatan "tidak nasionalis" paling tinggi adalah memelihara permusuhan, padahal menyadari itu menghancurkan sepak bola nasional. Olah raga paling disukai dan digandrungi di negeri ini.

Janji Sepakbolanda
Kepada pencinta sejati sepak bola Indonesia, Sepakbolanda hanya bisa berjanji dan memohon. Selama bisa dan diperlukan tetap akan mengingatkan para keturunan di Belanda bahwa, sepak bola Indonesia akan bangkit dan bara kecintaan supporter Garuda tetap tinggi. Masalah bukan pada suporter, tapi di tempat lain.

Di saat yang sama Sepakbolanda memohon, mari kita kritis dengan kepala dingin dan mencermati berita dan data solid. Dengan demikian kita tidak mudah terkecoh dan diadu domba! Hidup Garuda Bersatu!
Posting Komentar