Kamis, Maret 01, 2012

10-0 di Bahrain Jadi Sorotan Media Belanda


Berbagai media Belanda ramai memberitakan kekalahan timnas Indonesia di Bahrain dalam pra-kwalifikasi Piala Dunia zona Asia Grup E. 

Kekalahan keenam timnas Indonesia ini merupakan yang paling menyakitkan dengan angka telak 10-0. Seperti halnya Frank Rijkaard di Arab Saudi maka menurut media Belanda sudah sepantasnya Wim Rijsbergen juga mundur dari jabatannya di PSSI.





Media Belanda melihatnya sebagai sebuah kejadian luar biasa. Padahal sebelumnya publik Belanda menduga sepak bola di Indonesia sedang berkembang pesat dan sepak bola adalah olah raga nomor wahid, seperti di Belanda.


Ulasan-ulasan di Belanda menilai bahwa ternyata Wim Rijsbergen menukangi tim yang sangat lemah, walaupun sudah dua kali mencapai babak final di turnamen Asia Tenggara

 Voetbal International, media terbesar sepak bola di Belanda menilai 'Memalukan, direktur teknis Rijsbergen dan Indonesia dibantai 10-0 oleh Bahrain'




Sportdome.nl : Indonesia menelan kekalahan memalukan dengan angka dobel 1 dan 0. Media ini di situsnya tahu juga bahwa tim yang diturunkan ini bukan tim utama. Mereka tahu dari wawancara dengan Rijsbergen sebulan sebelumnya. "Bulan lalu dia (Wim) sudah menyebutkan masalah tidak bisa memanggil pemain yang biasa menjadi punggawa timnas. Karena mereka pindah ke kompetisi yang ilegal."

ADsport.nl menulis 'Indonesia menelan kekalahan ke enamnya. Terakhir paling parah. Kebobolan 10 kali tanpa balas. Mohamed Tayeb Alalawi mencetak goal terbanyak, empat kali.'

Ternyata tanggal 29 Februari bukan saja hari terakhir di tahun kabisat, tetapi juga tonggak sejarah bagi sepak bola Indonesia. Kemungkinan akan terjadi kekalahan 10-0 lagi sangat kecil, kalau PSSI mau berbenah diri dan mengajak semua pihak untuk bersatu.

Seruan naturalisasi semakin gencar dari kalangan yang ingin melihat perbaikan prestasi atau yang tidak kuasa menyaksikan timnasnya dibantai seperti oleh Bahrain itu.

Sejak pembantaian 29 Februari itu, sepakbolanda menerima beberapa permintaan pemain keturunan untuk dibantu  naturalisasi jadi WNI (warga negara Indonesia.) "Kami tidak terima menyaksikan negeri leluhur dibantai abis-abisan. Mungkin kami bisa berkontribusi." Ungkap beberapa kepada Sepakbolanda.

Menurut sepakbolanda, untuk saat ini percuma saja membeberkan nama-nama pemain handal yang ternanar menyaksikan Indonesia dibantai.

Sebab pemain yang selama ini memperkuat timnas Indonesia semodel Firman Utina, El Loco, Nasuha dll juga lebih berhak dipanggil untuk memperkuat timnas. Mereka dulu yang seharusnya diberi kesempatan.
Posting Komentar