Senin, Januari 30, 2012

Blasteran Bukan Instan Tapi Viagra

Masalah naturalisasi di timnas memang sangat dilematis. Satu sisi mengumpulkan pemain keturunan tempaan Eropa yang punya kwalitas unggulan dalam sebuah tim merupakan sebuah suntikan dadakan. 

Tidak sedikit kalangan yang menyebutnya pemecahan 'instan' karena mereka sudah jadi dan terbentuk. Anehnya orang-orang yang mengritik ini juga menyukai segala makanan instan, Mie, Jahe Wangi dan Susu Kental Manis. Itu semua nota bene adalah minuman dan makanan yang sudah membudaya di Indonesia. Jadi sebenarnya tidak ada salahnya dengan instan.


Viagra
Namun demikian sepakbolanda menilai kontribusi tim naturalisasi unggulan sebagai 'viagra.' Ketika sepak bola Indonesia sudah mati suri dan lemah syahwat maka gairah hilang dan juga motivasi minim untuk melahirkan generasi baru yang sehat. 'Viagra' dalam bentuk tim blasteran ini bisa melakukan penetrasi yang melahirkan generasi baru berbakat dan menyentuh hati keyakinan bahwa sepak bola Indonesia bisa hidup kembali.


Dua Pulau
Kalau saja sebuah kesebelasan blasteran pilihan bisa dikerahkan untuk menyambar gelar SEA Games menghajar Malaysia di final. Maka dua pulau bisa tercapai dalam satu kali dayung. Pulau pertama adalah menghapuskan kutukan keok melulu dari Malaysia. Pulau selanjutnya 'viagra' ini bisa menghapuskan trauma kebencian anak-anak balita dan orang tua mereka  terhadap pengurus dan sepak bola nasional.


 

Lambat laun anak-anak akan meninggalkan PlayStation dan WII di rumah untuk berbondong menuju ke Sekolah Sepak Bola (SSB) di kampungnya: satu tangan mengempit bola sepak dan tangan lain menjinjing sepatu bola. Mereka tidak gentar dengan sengatan mata hari dan tidak takut basah air hujan. Sebab mereka punya tujuan ingin menjadi idola seperti Lilipaly, Joey Suk, Van der Maarel, Oliver Rifai, Aaron Böck, Ruben Wuarbanaran, Michel van Veen, Ferd Pasaribu dll yang membawa gelar juara.

Sepakbolanda yakin di Belanda ada belasan pemain keturunan berkuwalitas di atas tim negara-negara Asean. Dan dengan latar belakang pendidikan sepak bola serupa di Belanda, mereka bisa sangat cepat dilumat menjadi tim tangguh. Hambatannya kemungkinan perudangan di Indonesia.


Syarat Awal
Tim blasteran ini adalah syarat awal suksesnya program pembibitan yang digulirkan sejak Januari 2012 ini. Dengan segala hormat, program PSSI dalam upaya membangun pembibitan massal yang melibatkan seluruh komponen sepak bola di seluruh negeri berpenduduk 230 juta jiwa ini, tidak akan berhasil tanpa di tandai dengan sebuah prestasi yang membanggakan.


Tanpa prestasi timnas senior di kancah SEA Games maupun ASEAN Games maka anak-anak yang secara talenta dan fisik memenuhi syarat menjadi pemain handal masa depan tetap tidak akan punya motivasi kuat untuk tetap latihan ketika sakit, cedera atau pengaruh lainnya.

Tanpa contoh prestasi konkrit maka program pembibitan yang digulirkan dengan sepenuh keyakinan tokoh optimis Timo Scheunemann, Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI sekalipun, akan kandas di tengah jalan. Para coach dan staf mungkin akan dilengkapi dengan sarana dan prasarana memadai, tetapi mereka tetap belum punya peranti mendongkrak motivasi adik-adik usia enam tahunan itu.




Sosok Panutan
Anak-anak Indonesia belum punya sosok panutan di dunia sepak bola. Menyebut nama legendaris Ronny Pattinasarani, hanya membuat bingung karena nama jadul. Kemudian menyebut Bambang Pamungkas juga tidak mengena, walaupun secara pribadi cerdas tapi sebagai pemain sepakbola tidak bisa dijadikan motivator. Irfan Bachdim yang dulu digadang menjadi contoh remaja, sekarang pun sudah sulit dibanggakan. Dan kalau memakai nama Messi atau Ronaldo itu sama dengan berkhayal ciuman dengan pacar tetangga, sebab mereka tidak ada kaitannya dengan Indonesia.  


Kita butuh satu tim profesional hasil didikan negara maju sepak bola Eropa. Ambil contoh di Belanda, sepak bola sudah merupakan bahasa pergaulan yang mengalir di darah anak-anak balita, cowok maupun cewek. Semua bicara klub tarkam sepak bola, tanpa ada rasa malu. Ketika mereka mulai masuk sekolah dasar, sudah saling sapa dengan bahasa sepak bola. Siapa pemain terbaik di liga utama, bicara dengan bangga tentang tim dan prestasi masing-masing di kompetisi usia enam atau tujuh tahun. Mereka saling unjuk kemahiran di pelataran sekolah.

Walaupun anak-anak diantar latihan naik mobil, tapi dalam pergaulan tidak saling bersaing soal kendaraan yang dipakai papa mereka. Sementara rekan mereka di kota besar Indonesia saling berlomba membanggakan mobil papanya. Mereka harusnya bangga dengan prestasinya sendiri, bukan hasil kerja papa.


Motivator

Mereka butuh motivasi lewat prestasi berupa supplement pendongkrak lewat kontribusi massal satu tim lengkap blasteran unggulan model Lilipay dan Joey Suk untuk merebut gelar juara SEA Games menghajar Malaysia di final. “Kalau berlatih keras dan rajin seperti Joey Suk, kita juga bisa menjadi juara,” begitu mungkin respon massal adik-adik yang sekarang benci sepak bola karena timnasnya keok melulu.

Mereka butuh figur contoh sukses, untuk sekarang dan 10 tahun ke depan Sepakbolanda tidak melihat cara lain selain ‘viagra’ tadi. Sehingga program pembibitan di empat kota besar akan kewalahan, karena animo akan meningkat dan semua anak ingin masuk sekolah bola. Mereka akan menjadi bintang baru Indonesia dalam 15 tahun mendatang!
Posting Komentar