Minggu, Oktober 30, 2011

Dampak LPI Pada Pemain Keturunan




Sejak PSSI punya pengurus baru, tampaknya sejarah akan berulang kembali. Indonesia akan punya dua liga tertinggi lagi. Di samping satu liga PSSI (PT Liga Prima Indonesia Sportindo,) akan ada liga tandingan (PT Liga Indonesia) yang diduga mulai bergulir 1 Desember.

Djenolgoal berharap semoga saja liga tandingan ISL mengambil hal baik Liga Primer Indonesia (LPI) dahulu dan tidak mengulang kesalahan mereka.

Keturunan=Lokal
Hal baik LPI dahulu adalah membuka pintu bagi pemain keturunan. Pemain asing berdarah Indonesia dipandang sebagai pemain lokal. Contohnya Gaston Salasiwa, tidak memakan kuota pemain asing di Bintang Medan. Kebijakan ini bisa merangsang pemain keturunan untuk merumput di Indonesia, sehingga membuat kompetisi lebih marak dan menyedot lebih besar minat penonton.


Perlakuan Buruk

Sementara itu kesalahan pihak LPI menurut djenolgoal adalah perlakuan buruk terhadap para pemain keturunan Indonesia dari Belanda. Beberapa pemain keturunan asal Belanda begitu saja kontraknya diputus karena Liga Primer Indonesia dibubarkan.


Pemain yang pernah merumput di LPI antara lain Raphael Maitimo, Pascal Heije (Bali deVata), Ferd Pasaribu, Dean dan Bryan Brard (Medan Chiefs), Gaston Salasiwa (Bintang Medan,) Jordy de Kat dan Regilio Jacobs (Tangerang Wolves.) 

Setelah jeda kompetisi LPI, tiga orang menuturkan pada djenolgoal bahwa mereka menerima surat pemutusan kontrak. Dan gaji hanya dibayar satu bulan lagi.


Mereka tidak ada pilihan lain kecuali hanya menerima. Padahal kontraknya rata-rata satu musim. Sebelum teken kontrak di awal 2011 mereka sudah diberitahu  bahwa LPI adalah liga baru yang penuh ambisi. Tetapi disampaikan pula bahwa LPI ‘belum’ diakui sebagai liga resmi.

Resiko
Ketika membubuhkan tanda tangan di kontrak, pemain muda Belanda dengan modal semangat, tidak terlalu memikirkan resikonya. Selama lima bulan di liga LPI mereka bermain maksimal. Jadi tidak heran ketika mereka melihat kompetisi Indonesia sebagai tantangan mengenal sepakbola dan budaya leluhur.


Mereka menikmati pertandingan tandang ke pulau lain dengan perjalanan sampai 10 jam, dari Medan ke Menado. “Itu merupakan pengalaman yang luar biasa,” kata Ferd Pasaribu, mantan bek kanan Medan Chiefs. Kebersamaan dengan rekan pemain dari berbagai bangsa menguatkan ikatan antar budaya. “Pemain Indonesia, Maroko, Prancis, Singapura kami bercampur dalam satu mes dan bermain dalam satu tim. Pengalaman yang bagus,” imbuhnya.

Nurdin Halid
Mereka mengira kompetisi akan berjalan satu tahun, seperti laiknya di negara lain. Tapi situasi berubah pesat sejalan dengan pergeseran pengurus di PSSI. Ketua umum Nurdin Halid tumbang dan konsentrasi para pengelola klub-klub LPI tiba-tiba beralih ke jabatan baru di PSSI.

Sihar Sitorus
Seperti tertulis dalam surat  Sihar Sitorus, pemilik Medan Chiefs, kepada tiga pemain keturunan Belanda. Disebutkan bahwa kotrak di Medan Chiefs tidak bisa dilanjutkan karena LPI berhenti dan jabatan baru Sitorus di PSSI tidak membolehkan punya klub sepakbola.


Pasaribu dan Brard bersaudara tidak bisa apa-apa kecuali menerima. Walaupun dilihat dari kacamata Belanda, pemutusan itu sangat aneh. Di Belanda, setiap pemain sepakbola adalah anggota KNVB, PSSInya Belanda. KNVB akan mengintervensi ketika hak-hak pemain dilanggar dan klub memutus begitu saja kontrak dengan pemain.


Tidak Menuntut
Intinya, mimpi buruk menimpa para pemain muda keturunan Belanda. Walaupun mereka sadar hal itu bisa terjadi. Ketika ditanya apakah tidak ada upaya untuk menuntut hak sebagai pemain, dengan mengadukan ke FIFA atau ke pengadilan, seperti laiknya di Belanda.

Sebelumnya kami memang sudah sadar bahwa LPI tidak diakui FIFA. Jadi organisasi tertinggi dunia pun tidak bisa berbuat apa-apa kepada klub yang bukan anggotanya.”

Mereka juga tidak akan menempuh jalur hukum di Indonesia. Beberapa bulan hidup di Indonesia sudah cukup bisa memberikan gambaran bahwa di negeri itu, segalanya bisa berubah. Dalam tempo yang cepat. “Hari ini bilang A, besok tiba-tiba bisa menjadi B. Daripada kami menghadapi proses yang berubah-ubah lebih baik terima saja,” kata salah seorang yang diputus kontraknya.

Masalah Baru
Pemutusan kontrak pada bulan Juli 2011, menimbulkan masalah baru bagi para pemain asal Belanda. Mereka tidak mungkin lagi bisa mendaftarkan ke KNVB untuk main di musim kompetisi berikutnya, yang ditutup bulan Mei. Beberapa di antaranya sekarang ini tidak punya klub atau hanya bisa ikut latihan di klub amatir. Ada pula yang memilih untuk berhenti sepakbola, ada yang melanjutkan kuliah seperti Brard bersaudara, dan ada pula yang bekerja di bidang lain.


Kecewa
Menurut djenolgoal, walaupun LPI punya niat awal ingin membuat sepakbola Indonesia maju dan lebih profesional, tapi fakta berkata lain. Pemain keturunan Belanda, berangkat dengan ambisi yang tinggi dan akhirnya pulang dengan rasa kecewa. LPI yang sempat berjalan selama lima bulan itu jelas bukan promosi yang baik bagi sepakbola Indonesia.
Posting Komentar