Kamis, September 22, 2011

Wim Rijsbergen Kesepian

Perasaan itu terungkap dalam wawancara Wim Rijsbergen dengan Thijs Plug wartawan de Pers, koran Belanda. Wartawan itu menyimpulkan dari ungkapan Wim menjelang akhir perbincangan di Belanda, paroh September 2011.

"Kalau nanti ke Jakarta, ayo kita ketemuan, soalnya saya tidak punya teman sama sekali."  Lebih menarik lagi mengamati ucapan pelatih timnas Indonesia selanjutnya. "Tapi kalau saya dengar perkembangan ini, maka saya tidak yakin apakah saya masih harapkan kembali ke Jakarta, 1 Oktober ini." 



De Pers juga menulis tentang beberapa pemain pilar Garuda. Christian Gonzales dipandang tidak fit dan kegemukan. Irfan Bachdim dinilai terlalu banyak memikirkan karir sebagai selebriti ketimbang sebagai pemain bola. Kiper Markus Horison dipandang sering kebobolan sejak nikah dengan bintang film Kiki Amalia.

Wawancara itu mengenai kisruh mogok tujuh pemain timnas pasca ungkapan pelatih asal Belanda di istirahat turun minum lawan Bahrain di Jakarta. Radio Nederland menurunkan tulisan itu sebagai ulasan pers:


"Pemain timnas Indonesia lebih sibuk mengurus rambut ketimbang pertandingan, ungkap de Pers.
Sebelum ini Wim pernah pula berkomentar, "mungkin pemain-pemain Indonesia kurang bagus untuk bermain di tingkat internasional." Ia mengatakan hal itu setelah timnya kalah 2-0 dari Iran. 

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia PSSI melakukan penyelidikan resmi atas Rijsbergen, atas ucapan tersebut. Sikap keras sang pelatih Belanda tidak selalu dihargai di Indonesia. Demikian tulis harian de Pers.

Namun masih banyak sekali masalah lain. "Para pemain berlagak seperti diva yang cepat sekali menyerah," tambah Wim lagi.

Mogok

Ketika Rijsbergen sewaktu istirahat pertandingan kualifikasi Piala Dunia melawan Iran menegur timnya dengan nada keras namun jujur, para pemain sedemikian terpukul, sehingga mereka melakukan aksi mogok beberapa pekan kemudian. Tujuh pemain menolak bermain di bawah komando Rijsbergen. Aksi mogok ini berlangsung sekitar satu pekan.

Wartawan de Pers, menghubungi Wim Rijsbergen, yang sedang berada di Belanda.
"Mereka (PSSI, red.) menaruh harapan tinggi pada saya, tapi saya dikasih seleksi pemain yang tidak fit. Ketika saya harus menangani anak-anak ini lima hari menjelang pertandingan penting, mereka sudah berminggu-minggu tidak latihan. Pada pertandingan berikut, pemain andalan (Boaz red.) pergi, terkait masalah pribadi. Konyol. Ia sebenarnya malas saja berangkat ke Teheran. Selain itu, dua pemain lain hengkang, begitu saja."

Lebih lanjut di: Radio Nederland

Posting Komentar