Kamis, September 01, 2011

Pemain Indonesia Kalah Fisik

Sepakbola Indonesia berusaha menata diri dengan memperbaiki struktur organisasi. Sejak PSSI dipimpin Professor Djohan Arifin Husin, tampaknya naturalisasi pemain asing dan pemutihan pemain keturunan dikesampingkan. Suara yang menguat adalah pembibitan muda.
Terlalu Kecil 

"Pembibitan muda menghasilkan bintang dari negeri sendiri." Sebuah cita-cita mulia yang sangat baik demi kemajuan anak bangsa. Tapi tim pimpinan Prof Djohar ini lupa satu faktor. Secara fisik orang Indonesia murni, tidak cocok untuk olah raga paling populer sejagad ini! Badan kita terlalu kecil. Jadi dengan rata-rata tinggi badan 175 cm, maka sampai 100 tahun kedepan, Indonesia kemungkinan tidak lolos putaran akhir piala dunia.


Sudah terlalu sering Djenol mendengar komentar berbagai pakar dan pemain sendiri bahwa fisik yang terlalu kecil merupakan faktor negatif dalam sepakbola. Kalah dalam  adu fisik, kecepatan, ketahanan dan perebutan bola atas. Sementara sepakbola moderen sangat menuntut kekuatan fisik dan stamina prima. Selain itu kemenangan dalam pertandingan juga ditentukan oleh goal-goal yang tercipta lewat sundulan kepala.




Arsène Wenger
Sebagai ilustrasi Djenol baca ungkapan Arsène Wenger, pelatih Arsenal pada bulan Juni 2011 lalu kepada media Inggris. "'Kami kekurangan pemain berbadan tinggi. Kita sering kecolongan angka, pada bola-bola mati. Kalah duel di udara yang seharusnya bisa dicegah. Kami harus bisa menghadapi tim-tim yang berfisik kuat. Sekarang ini kita seringnya ditaklukkan secara fisik."


Ungkapan Wenger, dua bulan sebelum Arsenal dipermalukan ManU, 8-2 sudah mencium gelagat ini. Harus diakui bahwa Arsenal secara klub memang tidak sekaya klub-klub besar moden ManCity, ManU, Liverpool atau Chelsea. Dan secara permainan Arsenal memilih tipe elegan yang artistik, bukan kekuatan fisik yang ditonjolkan. Padahal selama enam tahun Wenger selalu menyangkal kekuatan fisik menentukan kemenangan. Sekarang Prof Prancis itupun harus berubah pikiran.


Bagaimana dengan Indonesia? Negeri kita memiliki masalah yang lebih besar dibanding Arsenal di Premier League. Selain fisik yang lemah, tehnik pun pemain Indonesia masih di bawah negara adidaya Asia, semodel Jepang, Korena, Arab Saudi dll.


Bobo dulu....

6 komentar:

Anonim mengatakan...

thankz infonya...

djenol mengatakan...

Sama-sama, hanya tulisan ecek-ecek ginilah cara saya berkontribusi untuk sepakbola Indonesia.

Bagaskara mengatakan...

Bang, bagaimana menjelaskan kedigdayaan barcelona dan Spanyol yg saat ini kekuatannya di pemain2 pendek utk ukuran Eropa? :-)

djenol mengatakan...

Mereka pendek, tapi tidak semuanya. Dan juga Xavi, Messi, Iniesta itu selain skillnya eksepsionil, juga ototnya sangat berisi dan tidak mudah tergelincir. Tapi kalau sudah skillnya pas-pasan, kalah centimeter pula untuk duel di udara. Wah repotkan. kalau lawan tidak perlu pakai tenaga untuk berduel di udara, kita yang pendek harus genjot kerja keras untuk bisa sama tinggi. abis tenaga duluan. Jelas beda antara Garuda dengan Barcelona.

Anonim mengatakan...

Ada solusi untuk fisik , dengan penerapan sport science sejak dini, badan tidak tinggi tapi kalau di latih dengan metode sport science terutama di latihan jumping dan body strength serta nutrisi yang baik, masalah ini bisa di atasi.

Anonim mengatakan...

wah teringat komentar komentator liga australia, bahwa kekurangan pemain indonesia masuk liga australia adalah cuma ukuran otot mereka, fitnessnya kurang, mereka cuma berfikir skill dan teknik,padahal daya tahan tubuh, kelenturan, kebugaran, termasuk skala lemak dan otot harus diperhatikan dalam sepak bola modern