Kamis, Juli 14, 2011

Kisruh PSSI Belum Tamat Era Djohar Arifin

Terpilihnya Djohar Arifin Husin sebagai ketua umum baru PSSI diharapkan memberi angin segar pada sepakbola nasional. Tapi baru beberapa hari sudah nampak ungkapan-ungkapan yang terkesan gugup. Kesalahan pertama menurutku, ketika persepakbolaan menantikan suasana tenang dan kondusif, Farid Rahman wakil ketum baru PSSI tampak tidak bisa menahan emosi. Di media dia dikutip mengatakan 'akan pinjam duit sama Nirwan Bakrie untuk mengirimkan timnas ke Turkmenistan.'


Nirwan Bakrie

Kalau belakangan ungkapan ini diluruskan sebagai kelakar, maka itu adalah guyon yang salah. Karena Nirwan Bakrie dipandang sebagai bagian dari rejim lama PSSI, maka ungkapan Rahman bisa diterima sebagai ejekan. Dan itu bisa memupuk dendam dan perpecahan. Rasanya masih ada 1000 kelakar lain, yang lebih asik yan simpatik.


Riedl Dicopot

Keputusan pengurus tertinggi PSSI itu kelihatan nerveus lagi ketika terbaca di media bahwa pelatih sukses Alfred Riedl segera digantikan Wim Rijsbergen mulai 14 Juli 2011. Riedl dipandang sebagai orangnya Nurdin cq Bakrie dan sepertinya harus cepat-2 diganti dengan orangnya Arifin Panigoro. Inipun keputusan emosi.




Garuda Tak Tertolong
Wim Rijsbergen pelatih asal Belanda yang musim lalu dikontrak konsorsium LPI untuk menukangi PSM Makassar, memang pelatih yang mumpuni dan punya visi sepakbola yang baik. Tapi dengan pengalaman yang minim bekerja dengan timnas Garuda, aku yakin diapun akan kedodoran lebih parah dari Riedl. Uang tidak akan saya taruhkan untuk Garuda, karena sudah akan terjungkal di babak semi-final SEA Games 2011.


Ini adalah keputusan tergesa-gesa. Dan kita tahu kalau segalanya serba grusah-grusuh hasilnya tidak akan baik. Mengapa Riedl tiba-2 harus diganti? Menurut ku pelatih asal Austria ini sosok paling baik mengenal kekuatan dan kekurangan timnas kita saat ini.



Anti Pelatih Belanda

Aku bukan anti pelatih Belanda, tapi Wim Rijsbergen atau Guus Hiddink sekalipun tidak akan mampu memoles Garuda. Karena selain material pemainnya yang pas-pasan, waktu beberapa bulan terlalu singkat untuk membangun tim tangguh. Di saat seperti ini sepakbola nasional justru membutuhkan kontribusi dari semua pihak! Jangan dikubu-kubu begini!



Tidak Tenang

Tampaknya pertunjukan sinetron berjudul "Kisruh PSSI" belum berakhir juga pasca Nurdin Halid dan pasca Komisi Normalisasi! Sekarang aku tidak lebih tenang dari sebelum kongres luar biasa di Solo.
Posting Komentar