Senin, Mei 23, 2011

'Arifin Panigoro = Nelson Mandela'


Ketika kongres PSSI di Jakarta 20 Mei 2011 berujung deadlock, publik sekarang menanti keputusan FIFA 30 Mei. Ketua kongres dan Komisi Normalisasi, Agum Gumelar mengetuk palu tanda akhir kongres tanpa hasil.


Konon karena kongres yang dijadwalkan hanya memilih Ketua Umum baru PSSI itu dikacaukan kelompok K-77. Kelompok ini banyak melontarkan interupsi yang menghambat jalannya kongres. Akhirnya acara menyimpang dari agenda semula. Wakil FIFA menyaksikan dan ikut berbicara. Apa tanggapan FIFA di Zurich akan situasi ini? Publik menanti dengan cemas, dampak deadlock pemilihan ketum PSSI ini.

Terpecah
Kubu di Indonesia terpecah, ada yang menyalahkan K-78, Agum Gumelar, FIFA dan bahkan ada yang menyalahkan pasangan George Toisutta dan Arifin Panigoro. Semuanya cemas apa yang akan dilakukan badan tertinggi sepak bola dunia FIFA menanggapi perkembangan di Indonesia ini?

Banyak yang menuduh Arifin Panigoro ngotot menjadi ketua umum PSSI demi menyelamatkan Liga Primer Indonesia cetusannya. Ketika orang menyorot kembali Arifin Panigoro, maka teringat kembali pada wawancara dengan Robert Roelofsen, asisten pelatih di Bintang Medan, LPI. Pada wawancara dengan Djenol dari Radio Nederland 26 Maret 2011, pria Belanda itu mensejajarkan Panigoro dengan Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan yang memperjuangkan hak warga kulit hitam yang tertindas.

Kampanye?
Roelofsen merasa persamaan dengan Mandela itu jujur dan sama sekali tidak merasa berkampanye untuk Arifin Panigoro dalam bursa merengkuh jabatan tertinggi di tubuh organisasi tertinggi sepak bola nasional."Saya melihat dia sosok yang ingin mengembangkan sepak bola Indonesia. Ketika berbicara dengan dia, saya langsung ingat pada Nelson Mandela.”

Pemecahan
Kepada Radio Nederland, pelatih lapangan Bintang Medan asal Belanda itu mengaku sudah tiga kali bertemu Arifin Panigoro. Mantan asisten Klaus Augenthaler di VFL Wolfsburg Jerman itu menilai kehadiran LPI merupakan jawaban bagi masalah sepak bola di Indonesia.

Mantan pelatih tim junior Hansa Rostock itu sangat kagum pada bos Medco yang menghadirkan liga lebih baik. “Lebih profesional, tanpa korupsi, serta mendatangkan pelatih dari berbagai negara yang secara tradisi sudah mengenal sepakbola seperti Brasil, Portugal, Belanda, Jerman dan Serbia.” Baginya itu adalah modal awal untuk bisa mengembangkan sepakbola di Indonesia.

Gaji Lebih Baik
Dia sendiri tidak memungkiri bahwa pelatih, pemain dan wasit asing datang ke Indonesia juga untuk gaji yang lebih baik. “Gajinya lebih baik dari ISL dan pembayaran gaji tepat waktu.”

Ia yakin liga gagasan Arifin Panigoro akan membuat sepakbola Indonesia maju. Dan ia percaya Indonesia bisa menjadi negara besar sepakbola. “Dengan modal 240 juta jiwa, Indonesia harus bisa mengungguli Korea dan Jepang yang jumlah penduduknya lebih kecil. Indonesia adalah negara yang gila sepak bola tapi tidak menyadari potensi luar biasa yang dimiliki bangsa ini.” Paparnya kepada Radio Nederland.

Tulisan lengkap bisa disimak di Radio Nederland
Posting Komentar