Kamis, Desember 20, 2007

Marco van Basten Tinggalkan Pola 4-3-3



Dalam wawancara di televisi, Rabu 19 Desember 2007, pelatih kesebelasan nasional Belanda Marco van Basten mengatakan dia sedang merintis pola permainan 4-2-3-1 dengan empat pemain bertahan, dua pemain pengontrol di lapangan tengah, satu ujung tombak yang dikelilingi tiga pemain ofensif. Bagaimana dengan 4-3-3 yang selama ini disucikan?

Oranje akan punya tampilan baru pola 4-2-3-1. Pilihan pola baru ini didukung segenap skuad Oranje, demikian tambah Marco van Basten. Pelatih kelahiran Utrecht, 31 Oktober 1964 itu menekankan bahwa apapun pilihan pola permainannya, "yang penting setiap pemain tetap kosisten menjaga zonanya, baik saat menguasai dan maupun ketika kehilangan bola."

Perubahan ini bisa dipandang sebagai jawaban Marco van Basten atas desakan dan kritikan selama ini. Meskipun sebenarnya sudah meraih nilai yang bagus tapi sistem yang diterapkan Marco van Basten 4-3-3 terlalu dipaksakan. Sehingga materi pemain-pemain yang fantastis seperti Ruud van Nistelrooy, Robin van Persie, Arjen Robben, Wesley Snijder, Rafael van der Vaart, Ryan Babel, Clarence Seedorf dan lainnya yang nota bene disanjung di klub-klub besar Eropa, tidak bisa bermain maksimal di 4-3-3.

Gara-gara 4-3-3 yang suci itu, Robin van Persie dan Rafael van der Vaart dipasang di tempat yang bukan "alam" mereka. Memasang Rafaƫl van der Vaart sebagai kanan luar, sangatlah mengejutkan dan mengherankan. Di posisi itu kaki kiri ampuh dan kreativitas Rafael tidak main. Jadi menganggur lah "amazing kaki kiri" Rafael. Satu kritik lagi adalah "pengamputasian" kwalitas Robin van Persie ketika dipasang di Kanan atau Kiri Luar. Padahal pemain Arsenal itu justru ditakuti lawan ketika ditugasi di zona striker siluman. Percobaan Kidal di kanan dan Kanan di Kiri yang rupanya tidak menelurkan hasil maksimal.

Hanya berkat kwalitas individual pemainlah yang menyelamatkan hasil akhir pertandingan. Contohnya: Terseok-seok menang dari Bulgaria 2-1 dan dengan susah payah menang tipis dari Albania 1-0. Belakangan kritikan ke Van Basten tambah santer karena dinilai tidak menghasilkan serangan mulus dan cantik yang diharapkan. Sebagai jebolan Ajax Amsterdam, lumrah bila Van Basten selama ini menganut pola 4-3-3, karena sistem ini memungkinkan sebuah skuad yang cenderung menyerang. Pola ini pula yang selalu diagung-agungkan oleh Johan Cruijff legendaris bola Belanda.

Belanda berjaya dengan pola permainan 4-3-3 pada Piala Dunia 1974 dan 1978 serta Piala Eropa 1988. Johan Cruijff menilai bahwa pola 4-4-2 hanya cocok kalau materi tim yang kurang bagus. Cruijff mengungkapkan itu tanpa sadar bahwa klub-klub besar seperti AC Milan dan Real Madrid menerapkan sistem itu. Mungkin Cruijff bernostalgia pada era kejayaan Oranje di tahun 1974, 1978 serta 1988 masa jayanya trio Marco van Basten, Ruud Gullit dan Frank Rijkaard di bawah Rinus Michels.

Salah satu kubu yang juga kurang mendukung sistem 4-3-3 itu adalah pelatih Oranje Junior Foppe de Haan. Pelatih yang berhasil mengantarkan Oranje Junior Belanda ini bukan sembarang ngomong. Ia juga memberikan bukti dengan dua kali menjuarai Piala Eropa U21. Juara Piala Eropa dengan pola 4-4-2 berujung tombak Marcelo Rigters dan Ryan Babel. Berbicara dari pengalaman, Foppe yang sebelumnya juga penganut 4-3-3 mempertanyakan pola yang disucikan Johan Cruijff itu.

Perubahan pola yang dilakukan Marco van Basten itu memang akhirnya meninggalkan ciri Belanda "Serang Habis". Tetapi ketika sejarah telah membuktikan bahwa perubahan adalah jalan yang realistis maka MvB tidak perlu malu. Publik Belanda sudah terlalu lama menanti kejayaan kembali tim seniornya. Terakhir kali tim Oranje menginjak podium tertinggi sebagai juara Eropa 25 Juni 1988, ketika itu Marco van Basten adalah salah satu bintang Oranje. Siapa tahu 20 tahun kemudian, 29 juni 2008, kejayaan itu terulang kembali dan Van Basten berdiri di podium tertinggi di Stadion Ernst Happel, sebagai pelatih?
Posting Komentar