Kamis, November 22, 2007

Mampukah Capello Obati Tiga Singa Ompong?




Setelah kalah dari Kroasia di kandang sendiri 2-3 dan tidak lolos putaran akhir Piala Eropa (PE) 2008, pelatih Inggris Steve McLaren dipaksa mundur. Dengan pesangon 2,5 juta pond ia harus melepaskan jabatan yang dilakoninya 15 bulan. Sebuah keputusan yang lumrah, pelatih selalu jadi sasaran kritik kalau tim asuhannya gagal.

Koran Inggris mencincang habis timnasnya .
The Daily Mail memilih judul 'pertunjukan horor di Stadion Wembley.' Koran ini menilai sudah lumrah pelatih Steve McClaren dipecat. The Sun memilih kata-kata: "Tidak berguna, kasihan, dan berantakan"

Bukan hanya McLaren yang jadi sasaran semburan kritik.
Kiper Scott Carson dan back kiri Wayne Bridge juga dikecam.
Koran pagi The Guardian dan The Daily Telegraph memberi nilai untuk prestasi skuad Inggris. Kiper Carson yang melakukan kesalahan besar pada gol pertama Kroasia dapat 4 dan 3.
Sedangkan back Wayne Brigde, yang kerap disalip pemain kanan luar dan belakang Kroasia dihargai tidak lebih dari angka 3.

Hanya striker semampai Peter Crouch yang masih menuai pujian.
The Guardian bahkan cenderung kasihan sama ujung tombak Liverpool itu. "Dia kerja mati-matian, di posisi yang terisolasi. Dengan golnya itu sebenarnya dia layak tampil ke PE."

Siapa yang akan menjadi pelatih baru The Three Lions?
Ada dua nama dinilai pantas menukangi Rooney dan kawan-kawan. Bookmakers di Inggris melihat José Mourinho mantan pelatih Chelsea sebagai sosok yang cocok untuk menangani tim The Three Lions. Tapi pelatih asal Portugal itu serta merta sudah menampik jabatan paling berat di Inggris itu.

Fabio Capello pelatih asal Italia lebih berani. Ia konon sudah melayangkan surat lamaran terbuka ke London. "Sebuah tantangan besar pada momen yang tepat", kata pelatih 61 tahun itu. Capello memang punya track yang bagus. Di tahun 90an ia meraih sukses beruntun dengan AC Milan, Juventus dan AS Roma.

Memang ini kesempatan emas bagi setiap pelatih untuk menunjukkan kemampuannya. Lebih mudah membangkitkan tim loyo dari pada mempertahankan prestasi tim mapan. Tekanannya tidak terlalu berat dan motifasi tim biasanya tinggi. Setiap kemajuan walau sedikit, tetap dinilai sebagai perbaikan. Rumus itu juga yang dipakai Guus Hiddink dalam mensukseskan tim-tim asuhannya. Cari tim berbakat tapi sedang lunglai.

Tapi ingat ya Mas Fabi! Sukses di klub bukan jaminan sukses di timnas. Ini berlaku pula untuk pelatih Inggris mendatang. Kita tunggu saja apakah Asosiasi Bola Inggris menanggapi serius lamaran Capello. djenolgoal-div
Posting Komentar