Sabtu, April 18, 2015

Mario Balotelli Ditaklukkan oleh Pemuda Tambun

Berkat latihan keras Bas pemuda Belanda berusia 19 tahun mampu menguasai tendangan bebas dengan sangat mahir. Film-filmnya di Youtube menyedot perhatian, termasuk Liverpool FC. Berkat latihan selama setahun, dia mampu mengalahkan bintang-bintang klub bergengsi Inggris itu.


Ketika menyaksikan film di Youtube, bulan Januari 2014 lalu Eka Tanjung dari TanjungPro terkejut campur heran. Bagaimana mungkin ada orang berbadan gembur bisa mencetak goal dari jarak sekitar 16 m? Bola-bola yang ditendangnya menghujam gawang dengan efek curva dan cekung.
Sangking mahirnya, Bas diundang ke akademi pelatihan Liverpool untuk beradu dengan pemain tim utama The Reds. Bahkan penyelenggara dari Liverpool memilih tiga jagoan untuk meladeni Bas si pemuda 19 dari Zwolle itu. Mario Balotelli, Lazar Markovic dan Rickie Lambert.
Seperti bisa disaksikan di video bawah ini, Bas bisa mengalahkan tiga bintang dunia dari klub Liverpool Inggris yang disponsori oleh Garuda Indonesia itu. Baik tim utama maupun tim muda Liverpool menyandang kaos berlogokan Garuda Indonesia. Bas berhasil mengumpulkan nilai terbanyak dan menjadi pemenang dari persaingan ini.
Kepada media Belanda, Bas van Velzen mengaku dirinya memang memiliki kelebihan berat badan. Tanpa malu dia mengatakan bahwa saat ini sedang mengikuti training khusus untuk mengusir kiloan lemak dari dalam tubuhnya.

Kunci sukses Bas ini terletak pada latihan keras dan keinginan untuk bisa memiliki tendangan khas kreasi sendiri. “Saya berlatih kontinyu selama 9 sampai 12 bulan untuk bisa mencapai prestasi ini.” Dia melanjutkan bahwa :”Berusahalah untuk mengembangkan tendangan ciri khas sendiri.” demikian Bas van Velzen menganjurkannya.
Eka Tanjung dari TanjungPro yang memimpikan perkembangan sepakbola usia dini di Indonesia, melihat bahwa adik-adik di Indonesia bisa menjadi seperti Bas. Atau bahkan bisa lebih baik lagi. Kuncinya adalah kemauan tinggi didukung dorongan dari lingkungan dan orang tua.
Memiliki keahlian seperti Bas, bisa disusul kemudian dengan latihan dan kompetisi yang baik. Kita menantikan perkembangan sepakbola Indonesia yang lebih baik.

Minggu, April 12, 2015

FIFA Seperti Buta Kondisi Indonesia

Senang mengamati perkembangan sepakbola di Indonesia. Kian hari kian jelas ada peletakkan pondasi sepakbola nasional yang sehat dan terukur. Penulis sekaligus merasa tersengat oleh respon FIFA yang terkesan tidak mengenal kondisi sepakbola kita. 


Penulis kesal kepada FIFA, selama ini organisasi terbesar sepakbola sejagad itu jadi kritikan karena sepertinya ingin menjadi sebuah kerajaan sendiri, dengan presiden Sepp Blatter yang mengangkat diri sebagai rajanya. Indonesia bukan bagian dari kerajaan sepakbola.

Mengejutkan juga ketika FIFA terbaca membalas surat Kemenpora dalam kaitan penyelenggaraan kompetisi nasional di Indonesia. Penjelasan secara baik-baik oleh lembaga Indonesia setingkat kementrian, terkesan tidak diseriusi.

Jangan Kendur
Penulis berharap Kemenpora dan BOPI tidak kendur semangat setelah menerima jawaban dari FIFA. Soalnya kalau yang enak-enak FIFA bisa kecipratan, tapi ketika di Indonesia ada pemain sepakbola meninggal dunia karena tidak menerima upahnya, FIFA tinggal teriak-teriak dan main ancam.

Dan kalau ada kasus, maka kami bangsa Indonesia terkena imbasnya di mata dunia. Mereka bukan hanya menyalahkan PSSI sebagai pengurus sepakbola nasional, tapi pemerintah dan citra seluruh bangsa Indonesia jadi cemar. Nah kalau sudah begitu FIFA kemana?

Maka dari itu penulis sependapat dengan Gatot S. Dewa Broto, Kepala Komunikasi Publik Kemenpora:"FIFA harus menyadari sepenuhnya, bahwa Kemenpora dan BOPI justru sudah membantu FIFA untuk menegakkan aturan tanpa harus intervensi."

Aku rasa semua sependapat bahwa klub-klub harus sehat secara finansial dan punya peduli sosial yang tinggi. Agar tidak ada lagi kasus pemain mati atau terlantar karena tunggakan gaji.

Bilamana selama ini tidak ada yang mengingatkan klub akan hal itu, maka sekarang Kemenpora dan BOPI menurutku WAJIB menanggung tugas itu. Penulis akan kecewa kalau Imam Nahrawi diam saja, seakan semua lancar dan mulus saja.

Kalau saja FIFA mengetahui kondisi dan perkembangan sepakbola dan kekecewaan mendalam di masyarakat akan sepakbola, maka organisasi bola dunia itu akan senang terbantu Kemenpora dan BOPI yang mencoba meletakkan pondasi sepakbola sehat di Indonesia.

Dalam hal ini penulis menilai PSSI yang sudah memiliki jalur komunikasi dengan FIFA bisa menjelaskan urgensi akan perubahan yang dilakukan di Indonesia. Aturan harus diperketat demi mengajak klub berubah paradigma tentang pengelolaan sepakbola secara profesional.

Termasuk pengelolaan akademi sepakbola yang memberi peluang bagi bakat-bakat lokal berkembang menjadi pemain handal. Seperti dikatakan Ricardo Moniz, pelatih #keturunan Indonesia di Belanda. Bahwa kalau Indonesia bisa memilih sebuah sistem dan visi jelas tentang sepakbola, maka dalam 10 tahun akan muncul generasi yang mengejutkan dunia. Memulai dengan melatih ribuan pelatih yang menguasai dengan baik 100 trik sepakbola dan bisa mencontohkan secara sempurna kepada murid-muridnya. Maka, kata Moniz, Indonesia bisa bangkit dalam 12 tahun. Seperti halnya di Belanda.

Klub-klub prof Belanda juga diwajibkan mematuhi syarat-syarat ketat finansial. Kalau dilanggar maka klub bisa kehilangan lisensinya. Klub diharapkan memiliki akademi pendidikan. Selain itu klub juga harus memiliki jiwa sosial tinggi. Melakukan kegiatan charity seperti mengirim pemain menghibur penghuni panti-2 asuhan, rumah jompo, mengajak main anak-anak penyandang cacad mental dll.

Serempak
Penulis berharap Kemenpora dan BOPI juga mengajak semua jajaran olah raga di Indonesia melakukan kegiatan sosial. Sebulan sekali mengajak anak-anak jalanan dan di perkampungan main bola, main basket, golf, berrenang bersama. Agar anak-anak senang menjadi warga Indonesia dengan olah raga yang propesional.

Dari semua pernak pernik ini, penulis sejatinya sangat senang karena salah satu persoalan yang menjadi sumber kemerosotan sepakbola nasional mulai dibincangkan. Jika persoalan yang selama ini dinistakan atau diabaikan, sekarang mulai disebutkan, dibicarakan dan didiskusikan. Walau sakit, tapi ini perkembangan yang menjanjikan perbaikan bagi bangsa Indonesia. Kalau FIFA tidak peduli pada kita, mengapa kita harus peduli pada mereka?

Sabtu, April 11, 2015

Keturunan Indonesia, Latih Klub Tertua Dunia

Notts County

Ricardo Moniz, pelatih #keturunan Indonesia mendapat tugas berat membesut klub tertua dunia, Notts County (1862.) Tugas pertamanya  menyelamatkan Notts County dari degradasi League One.


Media Inggris mengumumkan Ricardo Moniz menandatangani kontrak tiga tahun di klub profesional tertua sedunia. Notts County berdiri tahun 1862, saat ini berada di posisi tiga terbawah di League One. Football League One adalah divisi ketiga di kompetisi profesional Inggris.

Baca lebih lanjut di Sepakbolabelanda.com

Rabu, April 01, 2015

Laga Friendly Belanda Spanyol Penuh Arti

Laga persahabatan Belanda vs Spayol yang akan digelar dalam beberapa satu jam kedepan ini bermuatan penting bagi kedua kubu. Baik Guus Hiddink maupun Vicente Del Bosque sama-sama ingin menang.

Bagi timnas Spanyol pertandingan nanti merupakan kesempatan meluruskan kekalahan telak 5-1 yang diderita Tim Matador dari Belanda pada babak Grup di Piala Dunia Brasil tahun 2014. Kemenangan malam ini bisa membuktikan bahwa Spanyol memetik pelajaran dari kekalahan itu, dan sekaligus membuktikan bahwa tim ini beda dengan setahun lalu. 

Spanyol sebagai juara Euro 2012 dan tidak perlu melakukan pertandingan kualifikasi, bisa menggunakan laga lawan Belanda ini sebagai persiapan menuju Euro2016 di Prancis. Bagi Fabregas dan kawan-kawan malam ini mereka akan berusaha maksimal.

Sementara itu timnas Belanda, khususnya pelatih Guus Hiddink yang sedang tertekan ingin meluruskan penampilan buruk yang dipertontonkan ketiga menjamu Turki 28 Maret 2014 lalu di tempat yang sama di Stadion ArenA Amsterdam. 

Secara mengejutkan Oranje ketinggalan 0-1 dari Turki yang secara ranking jauh di bawah Belanda (5) dan Turki (56). Selama hampir 80 menit timnas Belanda berupaya keras menyamakan kedudukan yang akhirnya berhasil dengan penampilan sepakbola memalukan, non-Holland School. Menggenjot bola ke kotak 16m gawang Turki. 

Johan Cruyff maestro sepakbola Belanda, merasa 'sakit mata' menyaksikan pertandingan itu. Publik dan pengamat Belanda menyalahkan Guus Hidding sebagai pihak yang bertanggungjawab atas keterpurukan ini. Belanda sebagai peraih urutan ketiga, di Piala Dunia 2014 lalu tidak memampu menunjukkan kualitasnya. 

Wartawan Belanda, yang dijumpai oleh Eka Tanjung usai laga Belanda-Turki menyebutkan bahwa saat ini sudah bukan saatnya lagi bagi Guus Hiddink untuk menangani timnas Belanda. "Jarak usia para pemain Oranje dengan Guus Hiddink terlalu jauh. Sehingga komunikasi antara coach dan pemain tidak mulus." 

Selain itu disebutkan bahwa perubahan style antara Van Gaal yang sangat ketat dan tegas, ke type Guus Hiddink yang 'longgar'  membuat sebagian besar pemain Oranje bingung. Ini yang menyebabkan prestasi selama ini melempem. 

Siapapun pemenangkan pada laga ini, hanya akan terpaut angka tipis. Dan pemenangnya nanti akan mendapat kepercayaan untuk melangkah ke depan menuju Euro 2016. Masih menjadi pertanyaan apakah Hiddink yang akan menangani Oranje di Prancis nanti. Penilaian dimulai malam ini lawan Spanyol. 

Sabtu, Maret 28, 2015

Berita Pemain Keturunan Indonesia di Belanda

Pekan ini banyak berita mengenai pemain #keturunan Indonesia di Belanda. Oliver Rifai, Wouter de Vogel, Kevin Diks, Thom Haye, Calvin Verdonk, Jairo Riedewald dll.

Eka Tanjung melihat perkembangan berbagai pemain keturunan #Indonesia yang menarik untuk dipantau pekan-pekan belakangan ini.
Oliver Rifai, menerima berita yang kurang sedap dari SC Telstar yang aktif di Liga Jupiler League. Pekan lalu ia mendengar kabar bahwa kontraknya yang berakhir di penghujung musim 2014-2015 ini tidak akan diperpanjang lagi. Kepada Sepakbolabelanda.com Oliver mengatakan belum tahu masa depan klubnya. “Saya yakin agent bisa menemukan klub yang cocok.” Baca lebih lanjut di Sepakbolabelanda.com