Minggu, Februari 01, 2015

Opini: Australia Tidak Perlu Bangga!

Tidak ada yang bisa dibanggakan dari gelar yang diraih Australia pada Piala Asia 2015. Eka Tanjung melihat banyak kejanggalan pada susunan pemain. 




  • Mathew (Matt) Ryan (Plumpton, 8 April 1992) main di Club Brugge Belgia,
  • Trent Lucas Sainsbury (Perth 5 Januari 1992) main di PEC Zwolle Belanda,
  • Ivan Frankie Franjic (10 September 1987) main di Torpedo Moscow Rusia,
  • Jason Alan Davidson (Melbourne, 29 Juni 1991) West Bromwich Albion Inggris,
  • Timothy Joel (Tim) Cahill (Sydney, 6 Desember 1979) Everton FC Inggris,
  • Mark Milligan (Sydney, 4 Agustus 1985) Shanghai Shenhua Tiongkok,
  • Massimo Luongo #keturunan (Sydney, 25 September 1992) Swindon Town Inggris.,
  • Mathew Allan Leckie (Melbourne, 4 Februari 1991) FSV Frankfurt Jerman,
  • Michael John 'Mile' Jedinak (Sydney, 3 Agustus 1984) Crystal Palace Inggris,
  • Robbie Thomas Kruse (5 Oktober 1988) Bayer Leverkusen Jerman,
  • James Troisi (Adelaide, 3 Juli 1988) SV Zulte Waregem Belgia.



Melihat daftar di atas sudah menggambarkan bahwa para pemain ini sejatinya aktif di liga Eropa. Dengan kemenangan tim Australia yang terdiri dari pemain-pemain asing yang non-Aborigin ini bisa dikatakan Australia menggunakan pemalsuan dua kali. Pertama karena para bule itu datang dari tempat lain di bumi ini. Dan kecurangan kedua karena Australia adalah benua bukan Asia. Okay lah, memang ada Tim Cahill yang ibunya dari Samoa, itupun bukan asli Australia.


Israel
Pengijinan Australia menjadi bagian dari Asia, sama saja mematikan peluang calon lain dari Benua Asia, termasuk Indonesia. Eka Tanjung jadi teringat dengan kondisi serupa yang terjadi dengan Israel di Eropa.

Negeri Timur Tengah itu digabungkan dengan UEFA di Eropa dengan alasan karena oleh para tetangganya Timur Tengah dikucilkan. Semustinya Eropa menggunakan permintaan Israel itu sebagai cara untuk mendorong proses perdamaian dengan Palestina. Eropa bisa saja mengatakan bahwa Istrael dan Palestina keduanya masuk UEFA dengan syarat mereka segera berdamai. Memanfaatkan momentum untuk perdamaian.

Eka Tanjung sama sekali bukan anti penggabungan. Sebab di kompetisi maupun timnas Israel banyak memiliki pemain berdarah Palestina di dunia sepak bola nya. Tapi lebih karena ingin melihat perdamaian yang dicapai dari setiap keputusan yang 'nyeleneh.'


Suku Aborigin
Kasus Australia sebenarnya sama. Eka Tanjung sangat menyayangkan sikap FIFA dan AFC yang mengijikan Australia begitu saja masuk zona Asia. Semustinya ada prasyarat bahwa negara bermartabat di Selatan Indonesia itu mensejahterakan suku asli Aborigin. Jangan asal ingin menangnya saja, asal jadi juara saja segala cara dipakai. Bukan itu!


Dengan kemenangan negara Aborigin di kejuaraan Asia itu sama dengan mencoreng muka sendiri. Sebab kalau membaca sejarah, tidak ada bangsa kulit putih berakar di Polynesia. Orang-orang asli berkulit hitam manis, tidak putih begitu.


Harga Diri Indonesia
Eka Tanjung sejatinya lebih bangga dengan Indonesia, walau masih kedodoran dan timnasnya kalahan tapi mencoba menggunakan pemain 'asli' Indonesia. Walaupun sampai kiamat tidak pernah lolos Piala Dunia lagi tidak apa-apa. Yang penting bangga dengan Garuda.


Kalau Indonesia mau juara dunia atau juara Asia, bisa saja. Datangkan 10 juta orang Brasil, Argentina dan Jerman ke Indonesia dan beranak pinak di sana. Jawa, Sunda, Bali, Padang minggir ke hutan atau menghilang entah kemana, seperti orang Aborigin.


Sepuluh tahun kemudian Indonesia diwakili bangsa Brasil, Argentina dan Jerman bisa dengan mudah jadi juara dunia. Ah tapi untuk apa. Undah lah, mending Indonesia menjadi juara akhirat lebih kekal abadi.

Kamis, Januari 29, 2015

Sepakbola Belanda Tergantung Pada Sukarelawan

Pada kesempatan ini Eka Tanjung dari TanjungPro mencoba memaparkan peran kerja sukarela bagi perputaran roda kompetisi sepakbola Belanda.

Sebagai orang tua yang memiliki anak bermain bola di klub amatir di Belanda, Eka Tanjung banyak terlibat kegiatan sukarela di klub. Berdiskusi dan bertukar fikiran dengan sesama orang tua yang punya anak sebaya.  Aslam Hanif putra sulung kami kelahiran Desember 2001. Dia pernah juga bermain sepak bola di klub, namun baru bermain dua kompetisi dan memiliki banyak teman, Aslam sudah minta berhenti bermain sepak bola dan ingin pidah ke olah raga lain.
Pelatih Sukarela
Selama dua tahun jadi anggota klub sc Buitenboys di Almere Buiten, dari usia 8 dan 9 tahun, Aslam berlatih dua kali seminggu. Selasa dan Kamis sore dia berlatih dengan Mike, ayah dari rekan timnya Aslam. Pelatih yang sabar dan selalu bersungguh-sungguh itu tidak mendapat bayaran satu peser pun. Ia melakukannya suka rela. Bayaran yang ia terima adalah senyum dan keceriaan anak-anak serta kursus dan training gratis pelatih di asosiasi sepak bola Belanda, KNVB.
Klub-klub sepak bola di Belanda, dijalankan oleh para orang tua atau wali pemain sendiri. Ribuan tugas kepengurusan dan pelaksanaan klub dilakukan berdasarkan sukarela. Di awal tahun, pada rapat umum tahunan membahas planning dan pembagian tugas di organisasi untuk setahun ke depan. Tugas melatih, mengantar anak-anak ke pertandingan away, menjadi hakim garis, wasit, tugas menjaga kantin, menyapu lapangan, menjadi penjual karcis, membuat undangan, administrasi dan masih banyak lainnya.
Polisi Bersihkan Sampah
Ketika Aslam bermain di klub sc Buitenboys, Eka Tanjung pun kebagian tugas mengantarjemput empat pemain ke pertandingan tandang yang jaraknya bisa sampai 60km. Sering pula penulis menjadi wasit dan juga menjaga kantin serta membersihkan sampah. Walaupun awalnya merasa berat, untuk menjadi ‘sopir’ dan ‘penjual kantin’  tapi akhirnya menjalankan dengan senang. Sebab semua orang menjalankannya. Ortu teman Aslam yang profesinya Komisaris Polisi saja mau menyapu tempat parkir. Dokter ahli bedah saja terlihat mengecat pintu, mosok Eka Tanjung yang hanya orang biasa bersikap congkak.
Gotong Royong
Dorongan motivasi juga muncul dari para pengurus yang nota bene juga kerja volunteers. Mereka kerjasa lebih banyak dan lebih sibuk mengurusi berbagaimacam kegiatan. Komunikasi dengan KNVB dll. Mereka merupakan contoh perilaku kerja suka rela yang baik. Walau hujan dan badaipun, pelatih-pelatih itu tetap saja tegar dan menjalankan pelatihan secara serius dan sungguh-sungguh kepada Aslam dan teman-temannya. Secara tidak langsung sikap itu memunculkan simpati dan tidak enak hati.
“Dia saja yang bukan bapaknya memberikan perhatian yang khusus pada anakku saat latihan, mosok aku cuman leyeh-leyeh santai di pantai aja,”
pikirku sehingga merasa tidak enak hati. Hubungan kami sesama ortu di sc Buitenboys itu begitu akrab sehingga, ketika kami menyatakan berhenti pun sejatinya berat. Harus pisah dengan kawan-kawan berbagi canda dan tawa. Sudah terlanjur senang masuk dalam komunitas orang tua yang mau Gotong Royong.
Tidak Suka Sepakbola
Suatu ketika kami dikejutkan ungkapan Aslam. Dalam perbincangan makan pagi di hari Sabtu, yang secara tradisi di rumah kami adalah sarapan bersama dan berbincang tentang kegiatan masing-masing. Saya, istri dan anak-anak mendapat kesempatan untuk bertutur tentang kegiatan selama sepekan terakhir dan rencana ke depan.
Saat itu Aslam mengutarakan ingin berhenti saja dari main sepak bola di sc Buitenboys. Awalnya saya sudah berprasangkan mungkin dia dibully oleh kawannya. Belum selesai Aslam menuturkan alasannya, saya sudah berrencana mengasah parang untuk ‘mencari biang keladinya.’ Setelah ditenangkan oleh ibunya, akhirnya kami mendengarkan alasannya. Ternyata Aslam sudah menyadari bahwa sepak bola tidak cocok untuknya.
Kembali ke soal sukarela di sepak bola. Eka Tanjung teringat slogan yang dipakai klub-klub sepak bola amatir yang jumlahnya 3600 di seluruh Belanda. Slogan ini menyangkut pentingnya peran kerja sukarela secara gotong royong untuk bahu membahu antara para anggota dan keluarga mereka.
Zonder vrijwilligers, geen vereniging. Zonder vereniging, geen voetbal…
Tanpa sukarelawan, tidak ada organisasi. Tanpa organisasi, tidak ada sepakbola 
Eka Tanjung melihat hal mendasar yang menjadi kunci keberhasilan sepak bola Belanda. Solidaritas dari parastakeholders yang membuat roda sepak bola di negeri ini bisa bergulir. Semua berkontribusi berdasarkan kemampuan masing-masing. Bukan ukuran besar-kecil sumbangannya, tetapi kebersamaan dan kepedulian yang ditunjukkan. Dan kepuasan batin yang dirasa dari hasil yang dicapai. Tahun 2015 lalu sepakbola di kompetisi amatir dibantu oleh 400.000 sukarelawan dan sukarelawati. Di bawah ini tabel lengkap angka sepak bola Belanda.
Fakta Sepakbola Belanda (2015)Jumlah
Jumlah Sukarelawan-wati400.000
Jumlah anggota KNVB1.209.413
Pemain Remaja Pria538.591
Pemain Dewasa Pria538.940
Pemain Remaja Putri76.938
Pemain Dewasa Putri50.550
Wasit club19.500
Wasit KNVB6.046
Club Sepakbola 3.229
Pertandingan perminggu32.500
Jumlah tim sepakbola lapangan60.457

Indonesia Bisa
Saat ini di Indonesia yang mengalami kemunduran prestasi sepakbola, ada baiknya melihat aspek sukarela dan gotong royong nya. Kompetisi di daerah yang vacum, bisa dihidupkan kembali dengan kontribusi bersama. Orang tua yang terjun langsung menjadi wasit atau hakim garis. Guru olah raga yang kerja suka rela menjadi pelatih di sore hari.
Puncak dari awal kebangkitan sepak bola Indonesia menurut Eka Tanjung adalah keterlibatan bapak bupati atau walikota yang turun langsung ke lapangan di barisan depan membersihkan sampah di jalan sekitar lapangan sepak bola. Satu tangan memegang keranjang sampah dan tangan lainnya memegang sapu.
Kehebatan pak bupati itu, Insya Allah akan menular kepada para ortu lainnya yang selama ini merasa terlalu berharga untuk melakukan pekerjaan hina. Mereka lebih baik menyuruh orang untuk kerjabakti di klub daripada turun langsung. Bapak bupati saja turun ‘lapangan’  mosok kita leyeh-leyeh santai di pantai?
Kalau itu terrealisasi, sepak bola Indonesia akan bangkit bersama geliat gotong royong, slogan mulia yang sejatinya berakar di Indonesia. Sukarelawan menjadi hal yang biasa dan menjadi ukuran kehidupan bermasyarakat.
Jangan tanyakan apa yang kau dapat dari klub bola, tapi tanyakan apa yang bisa kau berikat pada klub.

Jika Anak Ingin Jadi Pemain Sepak bola Profesional

Membesarkan anak sampai mandiri, merupakan salah satu tugas penting orang tua. Menuruti kemauan sang buah hati dalam meraih cita-cita, memerlukan kejelian dan kesabaran. Jikalau anak ingin jadi dokter atau insinyur, jalur dan programmnya sudah jelas. Tapi bagaimana kalau anak bercita-cita ingin menjadi pemain sepak bola profesional? Apa yang harus kita perbuat?

Lumrah kalau orang tua kaget, gembira, sedih, bingung ketika mendengar penuturan putranya yang ingin menjadi pemain sepak bola profesional. Perasaan tentu bercampur aduk. Benarkah anakku ini memiliki potensi menjadi pemain profesional? Apakah dia bisa menjadi besar sekaliber Bambang Pamungkas, atau Rony Pattinasarany atau Lionel Messi? Kemana dia harus melanjutkan pendidikan sepak bolanya?

Reaksi yang sangat lumrah jika ada rasa bimbang dan pemikiran yang terombang-ambing. Di satu sisi orang tua menyadari putranya menyampaikan itu mungkin karena keterbatasan nalar anak dalam menentukan cita-citanya. Di saat yang sama, orang tua tidak kuasa utuk mematahkan motivasi yang sudah terucap oleh putranya itu.

Ketika mendapati di Indonesia belum ada sekolah sepak bola yang mapan dan melahirkan pemain-pemain profesional tingkat internasional. Dan ketika mendengar kejanggalan-kejanggalan dalam sistem seleksi pemain klub maupun timnas, membuat kepercayaan orang tua terhadap sistem menipis.

Mencium aroma ketidakadilan dan kejanggalan itulah yang mendorong para orang tua di Indonesia melirik ke pendidikan sepak bola di luar negeri. Eka Tanjung kerap menangkap cerita dan kisah kekecewaan atas persepakbolaan di dalam negeri sehingga memaksa orang tua untuk mencari peluang di luar negeri.

Tesulut oleh motivasi dan semangat anak untuk maju memaksa orang tua berusaha maksimal mencari sekolah sepak bola, seleksi bakat sepak bola, dan tournamen di luar negeri, khususnya di Belanda. Eka Tanjung melihat belasan orang tua yang berinisiatif sendiri berangkat mengantarkan putranya ke Belanda. Kadang dengan berbekal informasi yang masih sangat minim.

Eka Tanjung menyarankan orang tua agar melakukan persiapan dengan matang sebelum berangkat ke luar negeri. Terutama mengenai informasi kegiatan sepak bola yang diinginkan. Sebaiknya tidak langsung percaya janji-janji muluk bisa langsung sukses di Eropa. Penulis pernah menemukan beberapa kasus bakat Indonesia datang ke Belanda dengan tujuan trial di klub profesional. Tapi sesampai di sini akhirnya, janji itu tidak terrealisasi. Waktu dan beaya besar terbuang tanpa hasil yang diharapkan.

Dua tahun silam Eka Tanjung mendapati orang tua yang ikut tur dari Indonesia. Ia mengeluh karena putranya tidak ikut tour stadion Arena dan Museum Ajax, karena hari itu stadion tutup sehubungan konser musik. Keburu harus kembali ke Indonesia maka sangat disayangkan, kegiatan ikut tour Stadion ArenA yang menarik itu, batal.

Contoh lain adalah memilih kegiatan yang pas dan cocok akan lebih mudah kalau koordinir langsung dari Belanda. Hal lain yang perlu diwaspadai adalah janji surga dari saudara atau rekan di Belanda yang menganggap mudah untuk menghubungi dan mendaftarkan anak masuk klub.
Seringnya klub tidak bisa dan mau memasukkan pemain asing, langsung ikut kompetisi. Untuk mencegah hal-hal yang berpotensi mengecewakan, maka Eka Tanjung menawarkan diri untuk memberikan konsultasi dan bimbingan bagi Anda yang berencana membawa putranya untuk melakukan kegiatan sepak bola di Belanda atau di negara lain Eropa.

Untuk keterangan lebih lanjut hubungi:
Tweet, Facebook, SkypeWhatsapp & HPEmail Sepakbolabelanda

Selasa, Januari 27, 2015

sc Heerenveen Juga Mencari Bakat


sc Heerenveen gelar jaring bakat akhir Februari ini. Kawan yang beralamat di Belanda Utara, bisa menjajal masuk akademi klubnya Jeffrey Talan #keturunan.


Klub Friesland ingin menambah skuad junior lewat saringan pada 27 Februari 2015 di Sportpark Skoatterwâld, Oranje Nassaulaan 21 Heerenveen.

Bakat kelahiran 2005, 2006 dan 2007 yang beralamat di Friesland, Groningen, Drenthe, de Noordoostpolder, de Flevopolder atau Overijssel diundang untuk datang.


Pendaftaran ditutup 15 Februari 2015.  Khusus untuk seleksi penjaga gawang akan diselenggarakan pada Kamis 26 Februari 2015.

Informasi tentang pendidikan usia dini di Belanda, hubungi:

Senin, Januari 26, 2015

Feyenoord Cari Bakat dan Tebar Pesona


Pic: Facebook Yussa Nugraha

Di Belanda ini klub-klub besar seperti bersaing menjaring bakat. Setelah Excelsior, Sparta, Ajax, kini giliran Feyenoord yang mengundang para bakat.


Bulan Februari adalah momen yang cocok untuk mencari bakat, demikian mungkin pikir para pengurus akademi sepak bola di Belanda. Mereka mengundang pada bakat untuk ikut seleksi di liburan Spring, Semi di sekolah. 

Seperti halnya klub-klub lain, Feyenoord menamai acara jaring bakat itu dengan "Talentendagen." Feyenoord Rotterdam yang memiliki akademi terbaik se Belanda dalam lima tahun terakhir, juga menggelar acara pada 23 dan 24 Februari 2015 ini.

Mereka mencari bakat usia antara kelahiran 1 Januari 2004 sampai 31 Desember 2009 untuk unjuk kebolehan di akademi Varkenoord. Pendaftaran berlaku untuk umum, dan akan mendapat pengarahan dari pelatih ternama akademi Feyenoord seperti Roy Makaay dan Jeffry Oost #keturunan Indonesia. 


Pencitraan
Pada hari itu tampaknya Feyenoord juga ingin melancarkan aksi charm offensive menggelar kampanye tebar pesona atau pencitraan.  Sebab pada hari ini pemain dari tim utama Feyenoord akan dikerahkan untuk menyemangati para bakat yang ikut seleksi. Tentunya dengan harapan anak-anak menjadi semangat dan kegiatan hari itu melekat dalam ingatan dan hati. 


Kalaupun anak-anak ini tidak semuanya terseleksi untuk gabung di Akademi het Varkenoord, minimal fan Feyenoord akan nambah beberapa orang. Tujuannya mungkin untuk regenerasi bakat dan juga supporters. 

Kalau Anda berkesempatan dan bisa, silakan daftar ke Feyenoord Talentendagen, dibuka sampai tanggal 15 Februari 2015. 


Jika ingin info lebih jauh tentang kegiatan sepak bola di Belanda, Eka Tanjung siap dihubungi:




Ajax Amsterdam Mencari Bakat

Klub-klub Belanda memanfaatkan liburan sekolah untuk menggelar acara seleksi bakat muda demi melengkapi skuad di akademi pembibitan, de Toekomst. 

Eka Tanjung dari Sepakbolanda melihat berbagai klub seperti SPARTA Rotterdam, Excelsior Rotterdam membuka kesempatan para bakat cilik untuk menunjukkan kebolehannya untuk gabung dengan akademi pembibitan mereka.

23 – 27 Februari 2015
A jax Amsterdam menggelar acara seleksi bakat di kompleks Akademi de Toekomst selama lima hari mulai Senin 23 sampai Jumat 27 Februari 2015. Acara tahunan selalu digelar sekitar liburan sekolah Spring atau semi sekitar bulan Februari.
2004-2008
Para skuad Ajax ingin melihat kemampuan bakat pemain lapangan maupun kiper dari sekitar Amsterdam berusia dari 7 – 11 tahun. Pemain lapangan: kelahiran 2004-2008. Sementara untuk seleksi kiper: kelahiran 2003-2008.
Pendaftaran di Ajax dibuka sampai tanggal 6 Februari 2015.  Dengan menetapkan beberapa persyaratan:
• Peserta memiliki motivasi yang tinggi menjadi pemain sepakbola.
• Beralamat di radius 60 km dari Amsterdam. (jarak latihan dan menghormati klub lain. Red.)
• Peserta memiliki kepercayaan diri dan mampu mengikuti pendidikan di Ajax.