Rabu, Agustus 13, 2014

Otten Cup Turnamen U19 Bergengsi di PSV Eindhoven

Peserta Otten Cup 2014

Belanda terkenal memiliki berbagai turnamen sepak bola kelompok usia muda. Turnamen U13, U15, U17 sampai U19 mempertemukan klub-klub berbagai negara dan benua. 



Setelah Future Cup di Ajax, Copa Amsterdam di Olimpia Stadion, Varsseveld U17menyusul Copa del Agatha dan Otten Cup di PSV. Turnamen di Belanda diminati berbagai klub dari Eropa dan Amerika Latin. Event sepak bola yang berlangsung beberapa hari ini merupakan kesempatan bagi klub untuk mempersiapkan diri menyambut musim baru kompetisi.

Selain itu para pemain Amerika Latin, khususnya Brasil dan Afrika, ini merupakan kesempatan unjuk kebolehan di depan publik Eropa. Klub-klub besar mengirimkan puluhan pemburu bakat ke turnamen-turnamen ini. 

Juni lalu Ajax memantau tiga pemain Ajax Cape Town yang berpartisipasi di AEGON Amsterdam Cup. Sementara itu scout-scout membanjiri Copa del Agatha dan Otten Cup mencari bintang baru kaliber Neymar ataupun Messi. 

Scout dari Aston Villa, Celtic, Juventus, Tottenham Hotspur dan Dynamo Kiev mengirimkan pemantau bakat muda dengan harapan bisa menemukan bakat baru. Mereka tanpa harus bertolak ke Brasil sudah bisa melihat dari dekat bakat Amerika Latin. 

Otten Cup yang diprakarsai Akademi PSV Eindhoven itu tahun ini berlangsung 15, 16 dan 17 Agustus. Turnamen Otten Cup episode ke 68 ini berlangsung di kompleks De Herdgang.  

Kalau kawan berkesempatan datang ke Eindhoven, akhir pekan ini. Ini jadwalnya:

Jumat 15 Agustus 2014
Jam 15:00 RSC Anderlecht - PSV
Jam 16:20 Red Bull Brasil - FC Twente
Jam 17:40 AZ - Liverpool FC
Jam 19:00 sc Heerenveen - Real Madrid

Sabtu 16 Agustus 2014
Jam 11:00 PSV - Red Bull Brasil
Jam 11:00 FC Twente - RSC Anderlecht
Jam 12:20 Liverpool FC - sc Heerenveen
Jam 12:20 Real Madrid - AZ
Jam 13:40 FC Twente - PSV
Jam 13:40 Red Bull Brasil - RSC Anderlecht
Jam 15:00 Real Madrid - Liverpool FC

Jam 15:00 sc Heerenveen - AZ

Rabu, Agustus 06, 2014

"Saya Melatih Otak, Bukan Kaki"

Louis van Gaal, sedang hot.  Manager baru Manchester United disanjung sejak mampu mengantarkan klub urutan ke tujuh Liga Inggris musim lalu menjuara Champion Cup di Amerika Serikat. 


Tegas, Jelas
ManU menggilas tim-tim papan atas Eropa. Real Madrid disingkirkan dengan 3-1. Liverpool disudahi di final 3-1. Mantan pelatih Timnas Belanda itu disebut mampu mengembalikan kepercayaan pemain dan tim.  Kebanyakan pemain menyanjungnya. "Dia (Van Gaal) pelatih yang tegas. Tapi jelas," ungkap Wayne Rooney, kapten ManU.

Rooney Ceria
Striker gempal itu pun tampak sumringah dalam dua pekan bersama Van Gaal di Amerika. Keceriaan yang tidak ditemukan pada si Wazza, sepanjang musim lalu bersama David Moyes.



"That's a stupid question" di detik: 52"

Bedakan saja ungkapan David Moyes ketika memulai tugas di ManU. Dia berkata semacam: "Saya merasa sangat terhormat mendapatkan tugas ini." Ini menandakan bahwa Moyes merasa jabatan manajer masih di atas kemampuannya.

Sementara Van Gaal memulai tugas di ManU dengan mengatakan, "pekerjaan ini cocok buat saya." Dia merasa bahwa kualitasnya memang sudah pas buat ManU. "Saya pernah menangani Barcelona, juara Spanyol. Melatih Ajax nomor satu di Belanda. Melatih tim nomor satu Bundesliga, Bayern. Sekarang saya memegang tim nomor satu Inggris," katanya pada konferensi pers mengawali tugasnya di Manchester.



Detik 3':16" "Melatih tim nomor satu Spanyol... nomor satu Inggris."

Dengan ungkapan itu maka sebenarnya, Van Gaal sudah mengatakan mampu menjadikan ManU juara Inggris. Dia tidak menyebutkan waktunya, tapi dia yakin bisa.

Percaya Diri
Menurut Sepakbolanda: hanya pelatih yang punya kepercayaan diril yang tinggi lah, yang mampu menulari kepercayaan diri pada tim.

Seperti halnya Johan Cruyff, Van Gaal sudah merupakan legendaris sepak bola yang punya ciri dan cara sendiri. Van Gaal adalah manajer yang ingin pegang semua kendali. Berbekal buku tulis, dia mencatat semua hal yang dinilainya penting. Dan hal-hal itu banyak sekali.

Kepada media di Inggris, Van Gaal mengatakan: " Saya melatih otak, bukan kaki." Dengan ungkapan-ungkapan khas semacam itu, awak media sangat senang menemukan kutipan orisinal.

Konfrontasi Media
Selama di Belanda menangani AZ, Ajax dan Oranje, tidak jarang juga Van Gaal mencari konfrontasi dengan awak media yang mewawancarainya. Sikap melawan dan marah Van Gaal itu, menurut Sepakbolanda punya tujuan. Van Gaal biasanya memasang badan untuk melindungi para pemain dan stafnya yang sedang jadi sasaran kritik.



Pasang Badan
Sepakbolanda tidak pernah memergoki Van Gaal mengamini kritikan wartawan tentang pemain asuhannya. Dengan melakukan perlawanan dan menyalahkan media, saat wawancara dia mencoba mengalihkan sasaran tembak. "That's a stupid question," jawabnya.

Kalau Manchester United bermain berdasarkan filosofi Van Gaal, maka Sepakbolanda tidak heran kalau ManU sudah akan juara musim depan ini. Berbahagialah para fans Manchester United!

Selasa, Agustus 05, 2014

Ezra Walian Berlatih Keras

Setelah sukses melakukan acara bakti sosial di Indonesia, Ezra Walian pemain #keturunan Indonesia mulai kembali dengan latihan keras menyiapkan kompetisi baru.


Ditemui di Bussum, Ezra sedang melakukan latihan fisik dan tendangan di lapangan Bussumse Football Club. Latihan private ini berlangsung selama dua jam penuh. Menurut Glenn Walian, latihan ini diperlukan untuk memulihkan stamina dan kondisi putranya Ezra.



Selama hampir empat pekan Ezra nyaris tidak melakukan latihan secara serius. Walaupun memberikan berbagai clinics dan pelatihan di Jonggol, Bandung serta Manado namun itu berbeda dengan latihan menjelang pertandingan kompetisi.

Tahun 2014 ini untuk kedua kalinya, Ezra memberikan pelatihan kepada pemain bola cilik dari Bandung, Jonggol dan Manado. Kali ini Ezra dan Glenn dibantu Lizzy, kakak Ezra yang juga memberi asistensi latihan. Jumlah pesertanya tahun 2014 ini juga jauh lebih banyak dari tahun sebelumnya.

video

"Kami sedianya memperkirakan jumlah peserta sekitar 80 orang. Tapi yang datang 100 lebih." demikian Glenn Walian kepada Sepakbolanda mengenai luapan peserta clinics. Lonjakan jumlah peserta, tidak mengendurkan semangat bakat muda di tim A1 junior Ajax Amsterdam itu.


Berbekal tekad ingin berbagi ilmu dan kegembiraan, keluarga Walian dari Amsterdam membawa seratusan seragam Ajax. Seragam itu sumbangan Ajax Foundation untuk kegiatan bakti sosial Ajax. 

Selain memberi clinics, keluarga Walian juga mengunjungi RS Anak Habibie di Bandung, klinik HIV, Panti Asuhan dan Sekolah Autis. Kunjungan itu memberikan dampak psikologis yang besar pada pemain berusia 16 tahun itu. "Sebuah pengalaman yang menakjubkan. Dan gembira bisa melihat wajah anak-anak yang ceria.” 

Kegiatan selama tiga pekan itu juga menjadi perhatian publik di Belanda. Ajax bangga melihat salah satu pemainnya memperhatikan kalangan lemah dan anak-anak yang kurang beruntung. Ajax dan Ajax Foundation lewat situsnya menulis bahwa, Ezra merupakan wajah dari organisasi yang secara sosial bertanggungjawab dan peduli pada sesama. 

Sepakbolanda berharap semoga Ezra makin semangat menunjukkan kemampuan sepak bola nya di Belanda. Pada akhirnya dia bisa memberikan suntikan semangat pada bocah-bocah di panti asuhan untuk lebih semangat belajar dan berlatih.

Kamis, Juli 31, 2014

Disewakan: Joey Suk

Joey Suk pemain #keturunan Indonesia ditawarkan kepada klub lain yang ingin menyewanya. Pemain yang digadang bisa memperkuat timnas Garuda, bernasib kurang mujur musim ini.


NAC Breda, klubnya sudah menyampaikan kepada Suk dan agen nya agar mencari klub yang berminat. Jika ada klub yang berminat maka, uang sewanya akan dipakai untuk menambah gaji striker baru Stipe Perica.  Sumber: NAC Fanzine

Manajemen klub Breda memilih pemain lain untuk posisi gelandang. Dengan kata lain maka Suk tidak lagi masuk dalam skuad yang akan diturunkan pelatih Nebojsa Gudelj mengarungi kompetisi Eredivisie 2014/2015. Suk masih memegang kontrak di NAC sampai medio 2017.





Senin, Juli 28, 2014

Alex Dimas, Dari Bego Jadi Jago

Alexander Dimas, bocah #keturunan Indonesia-Belanda berusia 5 tahun. Berkat latihan serius selama setengah tahun akhirnya mampu berubah dari bego ke jago.


Enam bulan lalu si Alex masih belum bisa apa-apa, kata ibunya. Dia sering jatuh dan tidak mendapatkan bola di timnya Kurcaci usia bawah 5 tahun di kompetisi SC Diemen. "Awalnya dia tidak bisa sepak bola. Tapi ayahnya mengirim dia ikut camp setiap dua bulan. Dua kali dia ikut camp 5 hari, sekarang jago giring bola." Ungkap Wati perempuan asal Indonesia itu tentang putranya. 

Sepakbolanda menyaksikan sendiri, Alexander Dimas bersemangat menggiring bola bersama kawan-kawan seusianya di Sekolah Sepakbola Balcontrole di Diemen. Walaupun cuaca hujan, namun anak-anak sepertinya menikmati permainan sepak bola dan tidak menghiraukan air yang turun dari langit membasahi kepala anak-anak kecil itu. 


Alexander Dimas
"Alex, ayo pakai jas hujannya," teriak Wati dari pinggir lapangan kepada putranya yang sedang berebut bola dalam pertandingan 4 lawan 4. 

"Saya khawatir nanti Alex masuk angin," tukas Wati kepada Sepakbolanda.  Namun anak semata wayangnya itu hanya melirik ke ibunya yang sedang melambai-lambaikan jas hujan warna biru. Tapi bocah yang baru lewat balita itu, tidak menghiraukan, bahkan seperti tidak peduli.

Suaminya yang sejak tadi sudah berdiri di antara puluhan orang tua yang menonton camp Balcontrole di pinggir lapangan, mencoba menenangkan istrinya. 

Pria Belanda berkepala licin itu, senang anaknya sekarang sangat fanatik bermain sepak bola. "Biar lah badannya jadi kuat, jangan takut masuk angin." ungkapnya dalam bahasa Belanda. 

Masuk Angin
"Cuaca di Belanda, memang sering hujan mau bagaimana lagi. Musim hujan, turun hujan. Musim panas juga turun hujan. Sepanjang tahun pasti turun hujan tanpa bisa diprediksi. Kalau harus masuk rumah setiap hujan, kapan bisa main sepak bolanya," ungkap pria itu sembari mengatakan bahwa dirinya sejak dulu sering kehujanan tidak pernah masuk angin. 


Setelah sesi pertama usia, Alexander Dimas pun akhirnya merapat ke pinggir lapangan. Mereka sudah akan mengakhiri latihan. Pekan ini sudah kedua kalinya dia mengikuti latihan di sekolah sepakbola. "Dia ingin menjadi pemain sepak bola," kata ibunya. 
Dan ayahnya yang orang Belanda itu siap memberi segala kesempatan pada Alexander untuk menjajal setiap cabang olah raga.

"Setiap minggu dia juga ikut les, Ski. Supaya dia bisa merasakan dan mencoba olah raga, yang saya dulu tidak pernah dapatkan."  demikian pria Belanda itu sedikit curhat tentang masa kecilnya yang tidak mendapat kesempatan menjajal setiap olah raga.   

Tristan Alif Naufal di Amsterdam Lagi

Pic: Facebook Irma Lansano

Tristan Alif Naufal bocah kecil berbakat dari Indonesia kembali meninjakkan kaki di Belanda. Setelah awal November 2013 lalu mengikuti trial di Akademi Ajax, apa rencana 'wonder kid' kali ini?

Sepakbolanda menangkap sinyal dari seorang kawan lewat Twitter ke @ekatanjung


Berita 25 Juli 2014 itu mengabarkan rencana keberangkatan Tristan Alif ke Belanda. Kemungkinan ia akan tiga bulan tinggal di Belanda. 

Sepakbolanda melihat berita ini sebagai awal menggali informasi dari berbagai pihak, selain dari pihak orang tua Tristan sendiri. Sebab pesan pribadi yang dikirimkan ke akun orang tua Alif tidak pernah mendapat tanggapan. Mungkin mereka memiliki alasan untuk tidak berbuka kepada Sepakbolanda atau media. 

Bocah Indonesia di Ajax Camp 2014

Sepakbolanda menghargai keputusan itu dan mencoba mencari berita dari sumber lain di Indonesia dan Belanda. Dari akun Facebook Tristan sendiri sudah mulai muncul kabar dan berita tentang rencana keberangkatan kali ini. 

Pada 26 Juli, Tristan bersama dua adiknya tampak berfoto di pesawat. Diduga menjelang keberangkatan ke Amsterdam. 

Pada 27 Juli, Tristan bersama ibu dan ayah serta dua adiknya berfoto di depan Bandara Schiphol Amsterdam. 

Beberapa jam kemudian mereka masuk di Hotel Bastion di Amstel. Hotel yang sama dengan tempat penginapan delapan bulan lalu ketika Tristan menjalani trial di Ajax. 

Lebaran
Sepakbolanda menduga Tristan akan mengikuti Camp Ajax yang dimulai pada hari Senin 28 Juli - 1 Agustus 2014.  Menarik karena hari pertama jatuh pada hari Eid Fitri, 1 Syawal 1435 Hijriah. 

Valdi dari Solo dan Pogba dari Suriname.
Kebetulan pula Sepakbolanda juga membimbing salah satu peserta camp Ajax dari Solo, Vivaldi Artema. Tristan dan Vivaldi akan mengikuti program yang sama tapi beda group. Tristan di kelompok usia 8-10 tahun. Sementara Valdi di kelompok 14-17 tahun.

Hanya Sepekan
Berhubung Camp Ajax ini berlangsung sepekan, maka Tristan kemungkinan akan melakukan kegiatan lain di Belanda. Kemungkinan Tristan akan kembali berhubungan dengan Michel Hordijk. Pelatih teknis junior Ajax dan direktur sekolah sepak bola di kota Zwijndrecht itu sejak awal terkesima dengan kebolehan bocah dari Jakarta ini.

Cuaca Enak
Satu keuntungan bagi Tristan, Valdi dan bakat sepakbola dari Indonesia, kali ini adalah cuacanya yang lebih bersahabat. Panas antara 15-25 derajat Celsius. Lebih menyerupai Indonesia dibanding bulan November ketika Tristan tahun lalu ke Belanda. 

Sepakbolanda akan mencoba memantau perkembangan Tristan Alif selama di Belanda.